BERITA JAMBI – Larangan mudik yang di lakukan atau di terapkan oleh Pemerintah, menjelang lebaran tahun 2021 ini. Ternyata, membuat supir mobil travel dan sebagian pedagang buah di Jambi menjerit, karena di nilai dapat mengurangi omzet mereka.
Sebagaimana di ketahui, beberapa waktu lalu pemerintah secara resmi mengesahkan larangan mudik Lebaran 2021. Di mana, upaya ini di harapkan mampu memutus mata rantai Covid-19.
Tentunya, hal ini secara tidak langsung membuat Supir travel dan pihak terkait lainnya, berkeluh kesah. Betapa tidak, pendapatan para Supir yang bersumber dari penumpang atau pemudik, ikut tergerus akibat adanya larangan dari Pemerintah tersebut.
Baca Juga : Perketat Larangan Mudik Sejak Dini, Polda Jambi Turunkan Ribuan Personel
Ternyata, selain supir travel pedagang buah di Jambi pun turut menjerin dengan adanya larangan mudik lebaran tahun 2021 ini. Pasalnya,pendapatan pedagang buah tersebut juga bersumber dari masyarakat yang melakukan perjalanan jauh. Bahkan tidak sedikit warga yang mudik, kadang membeli buah di pingguran jalan atau kios tempat penjualan buah.
Setidaknya, buah yan g di beli ini dapat di makan selama dalam perjalanan. Adapula kadang juga menjadi oleh-oleh, untuk keluiaraga mereka yang di kampung.
Seperti yang di sampaikan salah satu pedagang buah dan oleh-oleh di Jambi sedang menyusun barang dagangannya, Sabtu (24/04/2021).
Sebut saja Nurhayati, pemilik toko buah di kawasan Jalan Lintas Jambi-Muaro Bulian, akrab di kenal Simpang 3 Aurduri.
Wanita paruh baya ini mengatakan, selama masa Pandemi Covid-19 ini omzet dagangannya merosot hingga 50 persen.
Apalagi, bebernya, dengan adanya pemberlakuan larangan mudik ini membuat sepinya para kendaraan lalulalang.
“Sekarang sepi, penjualan sepi juga, terus penumpang-penumpang dak ado mampir. Ekonomi susah cari duit, apo lagi ado larangan-larangan mudik ini,” ungkapnya.
Rindu Suasana Sebelum Covid
Kemudian, pada Dinamikajambi.com, pedagang yang 7 tahun lamanya memulai usaha ini juga mengatakan, situasi arus mudik 2 tahun terakhir jauh berbeda sebelum Pandemi menghampir.
Bak rindu suasana sebelum Covid, wanita paruh baya ini membeberkan, omzet penjualannya merosot hingga 50 persen.
Padahal, saat-saat arus mudik beginilah kesempatan para pedagang buah untuk menambah penghasilan. Yang mana, para pengendara membludak membeli buah dan oleh-oleh di bawa ke kampung halaman.
Berita Lainnya : Soal Larangan Mudik Lebaran 2021 Diperpanjang, Joni Ismed Soroti Nasib Pekerja Angkutan Darat
Akan tetapi, jauh panggang dari api, tampak raut wajah Nurhayati seakan pasrah menerima keadaan pemberlakuan larangan mudik.
“Wah, kalau menjelang lebaran kayak gini, sebelum Covid sudah mulai ramai lah. Kalau sekarang boro-boro, beda jauh. Istilahnyo, dulu sehari masih dapat duit beras 2 kilo sehari, sekarang nyari sekilo nian payah,” keluhnya.
Sebagian Barang Terbuang
Di samping itu, Ia juga mengeluhkan kebijakan pemerintah ini terkesan dadakan. Padahal, seminggu sebelum Bulan Suci Ramadhan, pihaknya telah membeli stok buah untuk sebulan kedepan.
Alhasil, buah telah terbeli di perkirakan tak habis oleh sepinya para pemudik.
Lihat Juga Video : Bupati Wanita Jago Offroad, Jajal Jalur Ekstrim Adhyaksa Adventure
“Ini kemarin kami sudah buat stok semangka 6 Ton untuk persiapan. Eh, keluar info larangan-larangan mudik tu. Mau dak mau terbuang lah ni, taulah kan buah tu barang rawan busuk,” tutupnya.
Terakhir, Pedagang Buah Jalan Lintas Sumatera ini juga berharap pada Pemerintah. Yang mana, soal kebijakan larangan mudik ini, dapat memperhatikan nasib para pedagang kaki lima. (Tr01)
