BERITA JAMBI – Guna matangkan kurikulum di era Kampus Merdeka, yang di canangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim. Kali ini, Program Study Ilmu Politik Universitas Jambi gelar workshop kurikulum, undang pakar komunikasi, Selasa (23/11/2021).
Bertempat di salah satu hotel, Program Studi yang tergabung dalam Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fakultas Hukum Universitas Jambi tersebut, tampak mengundang salah satu pembicara terkemuka.
Adapun pembicara tersebut yakni, Dr Iding Rasyidi n, M.Si selaku pakar komunikasi politik, sekaligus Ketua Program Studi Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Baca juga : 13 Pejabat Eselon II Pemprov Jambi Di lantik Hari Ini, Berikut Nama-Namanya
Pada kata sambutannya, Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Arfai SH, MH menuturkan, kegiatan tersebut sengaja di gelar sebagai wujud penguatan kurikulum.
Apalagi, bilangnya, melihat perkembangan teknologi serta tantangan zaman kedepannya, Prody Ilmu Politik dituntut mampu melahirkan lulusan yang berkualiatas. Yang mana, salah satu cara mewujudkan hal tersebut, melalui penyusunan kurikulum serta bahan ajar yang mendukung.
“Acara ini bertujuan, agar bagaimana kita benahi dan kita perbaiki kurikulum kita. Sehingga, dari diskusi ini berbuah pertukaran informasi, antara kurikulum di Universitas Jambi dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui itu, kita ramu untuk melahirkan sarjana Ilmu Politik yang handal,” ungkap Arfai.
Kecakapan Mahasiswa
Selanjutnya, pada sesi penyampaian materi, Dr Iding Rasyidin, Msi menjelaskan, saat ini di butuhkan penyesuaian kurikulum yang berbasis Kampus Merdeka.
Bilangnya, pada penerapan Kampus Merdeka tersebut, Mahasiswa di hadapkan dengan metode perkuliahan yang baru. Betapa tidak, pada semester tertentu berkesempatan untuk melakukan pertukaran mahasiswa. Baik itu antar jurusan, maupun antar Perguruan Tinggi
“Karena suasananya saat ini kampus merdeka, tentu secara pengalaman maupun teoritiknya juga berbeda. Saat ini, mahasiswa di beri kesempatan berupa pertukaran kampus selama 3 semester. Pembagiannya, 2 semester di luar perguruan tinggi. Sementara, 1 semester kuliah di Perguruan Tinggi yang sama, namun dengan program studi yang berbeda,” jelas Dr Iding, melalui telekonferensinya.
Lebih lanjut, Pakar Komunikasi Politik Nasional ini menambahkan, dalam era Kampus Merdeka saat ini, Mahasiswa di bekali dengan metode pembelajaran yang baru. Baik itu secara teoritik, maupun berupa aplikatif.
Baca juga : Soal PPKM Level 3 Libur Nataru, Begini Penjelasan Walikota Jambi
“Di bidang akademik misalnya, pertukaran pelajar tadi. Kemudian, dilibatkan langsung dalam penelitian atau riset. Sementara, untuk aplikatifnya juga bermacam-macam. Diantaranya, magang, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, pengembangan desa, dan lain sebagainya.” bebernya.
Kendati demikian, Ia menegaskan, salah satu indikator keberhasilan tersebut sangat dipengaruhi oleh Dosen Pembimbing. Untuk itu, Akademisi tersohor ini menyarankan, sinergitas antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa adalah kunci utama.
“Maka, setelah kampus melakukan MOU dengan instansi tertentu, akan di tindak lanjuti oleh pembimbing dan DPL. Tentu, soal apa yang menjadi kegiatan mahasiswa, hingga hal detail lainnya.” tukasnya. (Tr01)
