Tak Punya Biaya, Andes Remaja Penderita Kanker di Kerinci Berkali-Kali Gagal Berobat

BERITA KERINCI – Mengenakan sarung dan kaos merah, seorang remaja penderita kanker di Kerinci, terbaring lesu tanpa beralaskan bantal.

Andes, sang penderita kanker tulang ini hanya bisa terbaring lemah di sebuah pondok sederhananya, yang berada di Desa Baru Semerah, Kecamatan Tanco, Kerinci.

Dia terlihat terkejut, ketika beberapa orang tamu datang berkunjung ke kediamannya. Dengan sisa tenaga yang ada, Ia berusaha bangun dan menyalami tamu.

Baca juga : PR Besar Pansus Konflik Lahan di Jambi, Berikut Usulan Ketua DPRD

Pipinya bengkak dan kesulitan untuk berbicara. Meski dalam kondisi terlihat kesakitan, namun sikap santun dan hormat kepada orang tua tetap di lakukannya.

Remaja tersebut bernama Andes (18), warga Kerinci yang merupakan penderita kanker tulang, yang di deritanya sejak beberapa tahun lalu.

Sakit yang di alami Andes, berawal dari kebiasaan mencongkel gigi menggunakan jarum. Gigi yang di congkel tersebut kemudian bengkak, akhirnya terus membesar. Sehingga mendorong bagian pipinya ke luar.

Andes sempat di bawa keluarga berobat ke rumah sakit umum MH A Thalib Kerinci, dan kemudian di rujuk ke M Djamil Padang, pada 2016 lalu.

Menggunakan biaya seadanya, keluarga pun membawa Andes ke Padang untuk menjalani perawatan lanjutan. Dengan harapan remaja berperawakan tinggi kurus ini, bisa memperoleh kesembuhan.

Namun karena keterbatasan ekonomi, akhirnya Andes di bawa pulang oleh keluarga, tanpa sempat di operasi seperti yang di harapkan.

Nyaris Tak Dapat Pengobatan Apapun

Sejak saat itu, Andes nyaris tidak mendapatkan pengobatan apapun. Sadar dengan ekonomi keluarga, dia sempat pasrah dan siap jika memang tuhan memanggilnya.

“Untuk memberi makan saya dan adik saya saja ibu kesulitan, apa lagi jika harus menanggung biaya pengobatan saya,”kata Andes.

Akibat tidak di tangani dengan baik, penyakit yang di deritanya semakin parah. Bahkan pipi Andes terus membesar. Sehingga Ia merasa minder, untuk bergaul bersama teman-teman sebayanya.

Padahal sebelumnya, Andes selalu aktif mengikuti kegiatan di desa. Baik kegiatan karangtaruna, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Ia juga memilih tidak melanjutkan pendidikannya di tingkat SMP, karena kesulitan keuangan serta rasa malu bertemu dengan teman-temannya.

Parahnya lagi, bengkak tidak hanya membesar di bagian pipi luar saja, namun juga bengkak ke dalam. Akibatnya, rongga mulut Andes semakin menyempit dan nyaris tertutup tulang.

“Jangankan makan, bernapas saja sangat susah. Tulang pipi saya di dalam mulut juga semakin membesar,”ungkapnya.

Hidup Menumpang

Andes bersama ibu serta seorang adik perempuannya, saat ini hidup menumpang di rumah kakek nya yang juga sudah lanjut usia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ibu Andes yang bernama Pira, bekerja sebagai buruh tani. Dan mencari sisa padi, yang sudah di panen di sawah.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, untuk mencari biaya pengobatan anak saya. Begini pekerjaan saya sehari-hari, untuk makan saja susah,” sebut Pira, saat di temui baru pulang bekerja di sawah.

Sebagai orang tua, Pira mengatakan tentu saja sedih melihat penyakit yang di derita anaknya. Apalagi ketika ini putranya, sudah pasrah dengan apa yang di alaminya.

“Ia sering bilang sudah siap, jika harus di panggil illahi dan tidak perlu di obati lagi. Jika memang biayanya tidak ada,” tambah Pira sambil menangis.

Rekomendasi Dinas Sosial dan Kesehatan

Kini harapan agar Andes bisa pulih seperti anak-anak lainnya, Kembali muncul. Setelah Dinas Sosial Kabupaten Kerinci, bersama Dinas Kesehatan, merekomendasikan Andes berobat ke Jambi.

Karena tidak lagi memiliki BPJS setelah lebih lima tahun menunggak iuran, Andes berangkat ke Jambi dengan modal Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Dengan biaya terbatas, bersama sang ibu berangkat ke rumah sakit Raden Mattaher Jambi. Namun setelah sampai di Jambi, Andes lagi-lagi harus menanggung kecewa.

Ini karena SKTM dan rekomendasi dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan, hanya bisa berlaku untuk satu kali pengobatan saja. Itu pun Andes di wajibkan, membayar tunggakan BPJS terlebih dahulu.

Padahal, karena tidak punya uang Ia terpaksa menunggak iuran BPJS, sehingga tidak bisa lagi berobat.

Pulang Lagi ke Kerinci

Butuh beberapa kali tindakan medis, untuk menangani penyakit yang di deritanya. Harus di lakukan operasi dan kemoterapi berulang-ulang. Atas dasar itulah, akhirya Andes bersama keluarga memilih kembali pulang ke Kerinci.

“Besok sore (Selasa.red) kami pulang ke Kerinci. Sambil memikirkan biaya tunggakan BPJS dan untuk kelanjutan pengobatan ke depan,” ungkap Salman, paman Andes.

Tidak ingin tinggal diam begitu saja, pemerintahan desa bersama masyarakat Desa Baru Semerah. Terus menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan.

Baca juga : Gubernur Ajak KAHMI dan Forhati Dorong Kemajuan Jambi

“Atas instruksi Kades, kami pemuda membantu penggalangan dana. Bagi donatur yang berniat membantu, bisa mengantarkan langsung ke rumah Andes. Atau via tranfer ke nomor rekening: 5555-01-024300-53-5 atas nama Amni Taher,” beber Amni, koordinator penggalangan dana pengobatan Andes.

Di sampaikan Amni, saat ini sejumlah dana sudah terkumpul. Namun jumlah tersebut masih jauh dari kata cukup.

“Kami meminta kerendahan hati para donatur, pejabat, dan pengusaha serta dermawan lainnya. Untuk ikut berbagi meringankan beban keluarga Andes,” harapnya. (Jul

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube