JAKARTA – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fadli Zon mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus pemukulan dua penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Borobudur, Minggu (3/2) malam. Wakil Prabowo Subianto di Gerindra itu mengaku sangat prihatin dengan kejadian tersebut.
“Ini lagi-lagi, satu hal yang sangat memperihatinkan. Para petugas yang sedang menjalankan penegakan hukum diperlakukan seperti itu,” kata Fadli di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/2).
Alumnus Universitas Indonesia (UI) itu mengaku sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa para penyidik KPK. Fadli menilai, kejadian ini membuat reputasi hukum Indonesia semakin memburuk.
“Ini sangat mengejutkan. Di negara hukum seperti kita, masih ada seperti ini. Saya kira ini harus diusut lah pelakunya,” pungkasnya.
Sebagai pimpinan DPR, Fadli pun berjanji akan menjadikan masalah ini untuk dapat perhatian di parlemen. Dia akan membahas hal ini bersama komisi III DPR RI.
Deiketahui, sebelumnya ada beberapa penyelidik KPK yang ditugaskan untuk melakukan pengecekan di lapangan terhadap informasi masyarakat tentang adanya indikasi korupsi di Hotel Borobudur. Namun, mereka diserang oleh oknum rombongan pejabat yang sedang diintainya hingga akhirnya luka parah.
“Mereka mendapat tindakan yang tidak pantas dan dianiaya hingga menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh,” ucapnya.
Padahal, lanjut Febri, kedua penyidik KPK yang menjadi korban tersebut, telah memperlihatkan identitas sebagai penyidik KPK. “Meskipun telah diperlihatkan identitas KPK namun pemukulan tetap dilakukan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Febri juga menyesalkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan pelaku terhadap dua penyidik KPK. Terlebih, keduanya sedang diberi tugas untuk memberantas korupsi.
“Apapun alasannya, tidak dibenarkan bagi siapapun untuk melakukan tindakan main hakim sendiri, apalagi ketika ditanya, Penyidik KPK telah menyampaikan bahwa mereka menjalankan tugas resmi,” ucap Febri.
“Sehingga kami memandang penganiayaan yang dilakukan terhadap dua pegawai KPK dan perampasan barang-barang yang ada pada pegawai tersebut merupakan tindakan serangan terhadap penegak hukum yang sedang menjalankan tugas,” tambahnya.
Oleh karenanya, Febri berharap aparat kepolisian dapat meringkus pelaku penganiayaan terhadap dua penyidiknya.
“Semoga segera diproses pelaku penganiayaan tersebut. Semoga hal yang sama tidak terjadi pada penegak hukum lain yang bertugas, baik KPK, Kejaksaan ataupun Polri,” pungkasnya.
Sementara itu, kata Ketua Dewan Perawakilan Rakyat Papua (DPRP) Yunus Wonda menuturkan, kejadian dini hari di Hotel Borobudur terjadi karena pihaknya merasa tidak nyaman dintai dan difoto-foto oleh orang yang ternyata penyelidik KPK itu.
Rombongannya langsung menghampiri dua penyidik KPK itu dan menanyakan soal keperluan memotret rombongannya, termasuk hadir Gubernur Papua Lukas Enembe berkali-kali, saat pihaknya baru saja selesai melakukan pertemuan dengan pihak Kemendagri untuk membahas RAPBD kemarin. Karena jadwalnya harus dikonsultasikan lebih dulu.
“Acara sudah selesai dan kami akan pulang. Tapi di loby hotel kami lihat kok ada orang foto-foto terus dan kami curiga jadi langsung kami pegang orang itu dan tanya,” kata Yunus sebagaimana dilansir dari Cepos Online (JawaPos grup).
Setelah diperiksa ternyata betul, dalam percakapan WhatsApp pria tersebut berisi foto dan keterangan yang langsung dikirim ke pimpinannya.
“Pak Gubernur juga melihat isi WhatsApp nya dan ada sebutan Lukas (Lukas Enembe), YW (Yunus Wonda) dan aktivitas yang kami lakukan. Saat itu juga Pak Gubernur perintahkan bawa ke polisi. Itu terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari,” bebernya.
Yunus menyebut bahwa awalnya ada tiga orang, namun salah satunya pergi lebih dulu. Setelah sampai di Polda Metro Jaya dan diperiksa ternyata betul, dua pria tersebut adalah penyidik dari KPK.
“Pihak kepolisian sudah konforirrmasi ke kami bahwa mereka memang dari KPK, kami paham tugas mereka, tapi kami tidak nyaman. Kami akan berikan keterangan pers soal ini. Mungkin ini sejarah karena baru pertama kali orang KPK yang justru kami bawa ke Polisi,” imbuhnya.
“Kami pikir mereka sebenarnya mau lakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap kami, tapi saya tegaskan bahwa kami kerja tak ada deal-deal dengan pihak manapun. Semua sesuai aturan, tapi kami seperti dicurigai,” tegasnya.
Sumber : Jawapos.com
