JAMBI – Maraknya wabah Virus Corona atau COVID-19 saat ini, tampaknya mulai berdampak, dan renggut aspek perekonomian di Provinsi Jambi.
Pasalnya, selain hambat rencana pembangunan, wabah Corona ini juga renggut perekonomian masyarakat di Jambi.
Tak ayal, ini pun menjadi masalah baru, dan tidak sedikit masyarakat yang mulai mengeluh.
Baca juga : Ketika Corona Mengancam, Begini Keadaan Hotel di Jambi
Sebagaimana yang diketahui, berbagai aspek yang timbul dari wabah virus Corona ini, yakni adanya pabrik karet yang mulai ditutup.
Selanjutnya, banyak juga perusahaan yang mulai tutup, yang mengharuskan beberapa karyawan atau pekerjanya dirumahkan.
Tentu hal ini sangat berdampak buruk, bagi perekonomian masyarakat. Bukan hanya sekedar sesuap nasi, tapi mata pencaharian pun mulai terkikis perlahan.
Baru-baru ini, perhotelan di Jambi juga tengah mengeluh karena pengunjung yang terus sepi.
Namun, bukannya mereka berupaya menarik kembali pengunjungnya, malah pihak hotel disibukan dengan penanganan, agar virus tak menyebar di tempat usaha mereka.
Akibatnya, perlahan kodisi ini tentu akan berdampak pada karyawan hotel, yang tidak menutup kemungkinan akan dirumahkan juga. Seperti perusahaan yang lain.
Hal yang sama juga dirasakan dirasakan Kangaroo Springbed Jambi, mereka mengeluh semenjak wabah Corona ini, penjualan mereka menurun drastis.
Bahkan, pengunjung yang datang ke tempat usaha mereka, mulai berkurang. Sehingga, membuat pendapatan mereka menurun hingga 50 persen, dari biasanya.
Dikatakan Udin selaku Salesman Kangaroo Spring bed Jambi, bahwa saat ini pembeli produk Kangaroo tengah merosot. Hal ini diakibatkan oleh wabah Virus Corona, yang terus menjadi jadi.
“Agak menurun semenjak dilanda Corona. Bahkan sekarang sudah menurun drastis,” keluhnya pada Dinamikajambi.com, Sabu (11/04/2020).
Lihat juga video : Data COVID-19 Provinsi Jambi
Produsen kasur matras ternama tersebut (Kangaroo Springbed, Red), mulai mengeluh dengan kondisi pengunjung yang sepi. Sehingga mereka khawatir, apabila kondisi seperti terus terjadi, maka dampak buruknya adalah penghasilan setiap karyawan.
“Yang mau kunjungan ke toko aja sepi. Sekarang turun 50 persen, pembeli setiap bulannya.” Tandasnya. (Nrs)
