JAMBI – Jelang penutupan pendaftaran Capres-cawapres 2019, manuver politik masih dimainkan partai politik. Tarik ulur dukungan, terus berlangsung hingga 3 hari jelang penutupan pada Jumat (10/08). Partai Keadilan Sejahtera, salah satu yang paling memainkan bargaining untuk Pilpres mendatang.
Bukan tak mungkin, PKS yang setia mendampingi Gerindra sebagai oposisi, keluar dari barisan yang diisi PAN, PBB dan Garuda. Rekam jejak PKS dan Jokowi, bukan tak mungkin, membuat keduanya bernostalgia saat memenangi 2 Pilwako Solo.
Terkait hal ini, Ali Mochtar Ngabalin menyiratkan tak mungkinnya PKS berada di barisan Jokowi. Hal tersebut, terungkap salah satunya pada hastag 2019.
“Saya mau tertawa terbahak-bahak, karena PKS, karena PKS, dengan gagah dan berani telah menyebar hastag 2019 ganti presiden. Saya mau tertawa selama 2 kali 24 jam, 2 hari berturut-turut tidak berhenti,” bilang Ngabalin menjawab Dinamikajambi.com usai bertemu Lintas Relawan Jokowi di Jambi, Rabu (08/08) sore.
“Tertawa terbahak-bahak kalau PKS bisa lempar handuk dan bergabung dengan Jokowi. Itu pun pernyataan saya sama, saya kira akan terasa jijik bagi para pendukung,” sambungnya.
Hal senada, disampaikan politisi Golkar ini, saat dikonfirmasi soal bergabungnya PAN. Partai besutan Zulkifli Hasan ini, diusulkan Ngabalin, untuk tidak masuk dalam gerbong petahana.
“Saya tidak tau perkembangan terakhir bagaimana, apakah PAN sudah bergabung. Tapi saya usulkan memang, PAN tidak perlu lagi diterima. Biarlah ada di bagian oposisi, supaya jelas ini permainan,” bilangnya.
Selain itu, masuknya PAN dalam barisan, belum tentu para pemilihnya mendukung Jokowi. Begitu sebaliknya, barisan yang sudah tergabung, belum tentu menerima kehadiran PAN.
“Khawatir saya, malah pergi. Tapi apapun keputusan yang diambil oleh Presiden Joko Widodo, selaku orang yang dipercayakan untuk mengisi ruang publik dari hantaman-hantaman para pengecut, penyebar fitnah, saya tetap tunduk dan taat pada putusan, apa maunya bapak Joko Widodo,” terangnya. (Win)
