BERITA MUARO JAMBI – Kegiatan Eksploitasi Pengeboran Minyak di Talang Belido Muaro Jambi, yang di lakukan pihak pertamina EP Jambi, berbuntut panjang. Warga menolak, dan minta kegiatan tersebut di hentikan.
Hal ini di sampaikan H Karyadi, selaku Tokoh Muda Kabupaten muaro Jambi, Selasa (15/12/2020) sekitar pukul 21.00 melalui eluler pribadinya.
Karyadi mengatakan, bahwa akibat sosialisai yang tidak tersampaikan dengan baik pada masyarakat, akhirnya berbuntut panjang. Bahkan, warga melakukan pemblokiran di simpang 4 proyek pengeboran minyak yang di gayap Pertamina tersebut.
Baca juga : Dinilai Ingkar Janji dan Abaikan Masyarakat, Pertamina Angkat Bicara
Berita lain : Pertamina Aset 1 Dinilai Ingkar Janji, dan Abaikan Masyarakat?
“Warga dan pemuda di Dusun III Sungai Sarandi Talang Belido Muaro Jambi. Mereka sepakat untuk menolak kegiatan, Eksploitasi pengeboran pertamina di dusun mereka. Kalau tidak salah, ini pengeboran yang ke 30,” jelasnya.
Sepakat Melakukan FGD
Selanjutnya, masyarakat juga sepakat untuk melaksanakan Focus Group Discussion (FGD), dengan unsur terkait.
“Jadi tak di sangka, karena awalnya cuma kumpul-kumpul pemuda tengah saja, tapi bocor. Oleh sebab itu, tadi langsunglah di hadiri oleh Kepala Desa, Babinkamtibmas dan Babinsa. Nah dari diskusi itu, warga sepakat untuk stop pengeboran di Talang Belido itu,” terangnya.
Hal tersebut, bilang tokoh muda Muaro Jambi ini lantaran banyak masalah yang tak di sebutkan satu persatu. Serta juga ada unsur yang tidak di libatkan dalam sosialisi yang di lakukan pihak pertamina, pada masyarakat belum lama ini.
Selain itu, Ia juga menyinggung terkait kontribusi yang di berikan Pertamina, terhadap daerah tempat mereka melakukan pengeboran tersebut. Bahkan, pemuda setempat juga tidak memungkirai hal itu.
Pun demikian, apa yang di lakukan pihak pertamina di nilai tidak sesuai dampak yang di timbulkan, dari kegiatan pengeboran yang di laksanakan. Salah satunya, soal jalan yang dari dulu tidak pernah di perbaiki dalam bentuk yang lebih baik.
“Terutama jalan, yang sudah di bangun sejak tahun 1979, hingga saat ini masih pengerasan. Tidak pernah di lakukan peningkat-peningkatan, parit pun tidak ada. Lagi pula kan, mereka melakukan perbaikan di saat mau melaksanakan pengeboran saja,” keluhnya.
Jadi Sorotan Warga
Tak ayal, hal itu pun jadi sorotan warga setempat. Di mana, mereka minta akses jalan di kawasan tersebut di perbaiki. Setidaknya, layak tempuh. Sehingga, masyarakat pun senang dan aman saat melintasi jalan sekitar.
“Belum apa-apa mereka udah masukkan alat. Nah ini yang kami protes, setidaknya perbaikilah jalan itu. Meski tidak pun beton, namun minimal layak lewat lah,” imbuhnya.
Melihat hal tersebut, akhirnya pemuda setempat di buat geram dan kecewa. Tak main-main, mereka pun akan menghitung, setiap hasil pertamina dalam pengeboran minyak tersebut. Lalu di bandingkan, dengan bantuan yang di kelurkan untuk masyarakat. Sudah setimpal atau tidak ?
“Kita mau hitung betul itu, leting minyak dari 30 titik itu berapa sih, dan ke Pemda nya berapa. Serta berapa CSR nya gitu, jangan di hal yang kecil-kecil nya saja. Toh ini juga tidak memberatkan pertamina juga, uang negara dan buat rakyat juga,” tegasnya.
Lihat juga video : Di Tengah Perjalanan, Bupati Setir Mobil Sendiri
Tak hanya itu saja, selama melakukan pengeboran di kawasan tersebut, pertamina tidak pernah memberikan kegiatan pelatihan pada masyarakat. Apalagi mau membantu, dengan memberikan modal usaha.
“Kami tu kadang pengenlah di berikan pelatihan, misalnya di BLK atau di mana. Ada tu JOB yang hanya melewati pipa, mereka memberikan perhatian lebih pada masyarakat setempat. Bahkan warga di berikan pelatihan, bantuan modal, di kasih bantuan mesin las. Di kasih juga bantuan komputer, dan itu tiap tahun. Nah pertamina tidak pernah melakukan hal itu, di kampung kita. Ini yang kami inginkan, mereka lebih peduli,” tandasnya. (Nrs)
