Sengaja Cemari Lingkungan, Masyarakat Minta Pemerintah Tutup PT BAM

MUARO JAMBI – Pengelolaan limbah PT BAM yang berada di Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, sampai saat ini masih belum juga optimal dan ramah lingkungan.

Bagaimana tidak? sering kali, limbah kelapa sawit itu bocor ke sungai. Padahal, ada beberapa cara dalam pengelolaan limbah cair tersebut, contohnya POME (Palm Oil Mill Effluent).

Banyak cara untuk mengelola limbah itu, tapi mengapa PT BAM justru tidak peduli dengan limbah ini. Bahkan, limbah perusahaan kelapa sawit tersebut terus terulang mengaliri sungai yang berada persis disebelah berdirinya bangunan PT.

Sudah barang tentu, aliran limbah itu akan merusak lingkungan dan ekosistem yang ada disungai, termasuk mencemari air yang digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Dan lebih parahnya, limbah buangan perusahaan tersebut menghasilkan bau menyengat yang tidak mengenakkan.

Jalaludin tokoh pemuda Desa Gambut Jaya, geram melihat kondisi itu berlarut dan terkesan dibiarkan oleh PT BAM. “Saya memang bukan Warga RT 19 Sungai Gelam. Tapi saya ikut kecewa dengan apa yang dilakukan PT BAM. Jika perlu, tutup operasionalnya, jika belum mampu mengelola limbah dengan baik,” ujarnya, Kamis (04/01/18).

“Sebenarnya sejak awal berdirinya PT BAM dipinggir jalan ini juga kami kurang setuju. Selain limbah cair, pencemaran udara yang baunya menyengat pun mengganggu warga yang melintas. Tapi kita tidak tahu bagaimana pemerintah memberikan izin,” lanjut Jalaludin kesal.

Menggali informasi lebih dalam, dinamikajambi.com bersama Murjani Warga RT 19 Desa Sungai Gelam, turun langsung ke lokasi jalur buangan limbah PT BAM yang menjadi keluhan.

Benar saja, kondisinya tergambar sangat parah dan memprihatinkan. Tumpukan limbah yang sudah berubah menjadi lumpur berwarna abu-abu kehitaman terpampang jelas di lokasi. Belum lagi, bau menyengat yang tak sedap menjadi teman saat penelusuran.

“Kecewa dengan PT BAM, mereka sewenang-wenang dengan kondisi limbah ini. Tak ada penanganan khusus dengan kondisi limbah yang mengalir ke sungai alam. Kondisi seperti ini mematikan rezeki kami, ikan-ikan di sungai sangat sedikit sekali gara-gara limbah tersebut,” tutur Murjani kala berbincang saat penelusuran. (Tr01/Raw)