JAKARTA – Duka mendalam menyelimuti Ifan Seventeen. Selain menjadi korban, ia juga harus kehilangan tiga sahabatnya serta istri tercinta dalam bencana tsunami Selat Sunda.
Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie angkat bicara. Ia menjelaskan setiap orang tak bisa disamakan kondisi psikologisnya dalam menghadapi musibah.
Akan tetapi, setiap orang yang mengalami musibah seperti Ifan secara umum pasti mengalami trauma mendalam.
“Hal seperti ini kita enggak bisa punya template cetakan untuk semua orang. Tiap orang menerima semua trauma berbeda-beda dengan resistensi yang berbeda-beda pula. Dampaknya pasti, tapi apakah dari sisi kejiwaan apakah itu hancur sekali? Maka tingkat kejiwaan seseorang juga berbeda,” kata Liza, dilansir JawaPos.
Lebih lanjut, Liza memberikan indikator bagi orang-orang yang sedang berduka ditinggal orang yang disayang, biasanya bisa terlihat dalam waktu 6 bulan ke depan.
“Ke depannya kita lihat sekitar 6 bulan. Kalau masih menangis tentu tak apa-apa. Lalu apa masih sulit makan atau malas makan? Apa bisa tidur? Apa masih bisa sosialisasi, masih bisa utarakan yang diinginkan dan lainnya,” katanya.
Liza menambahkan, terkait yang dihadapi Ifan, ia menilai sangat berat dan butuh dukungan dari teman-teman dan kerabat terdekat.
Namun biasanya, pria lebih bisa menahan dukanya di dalam hati ketimbang perempuan.
“Pasti di tahap awal tidur terganggu, makan berkurang. Cowok lebih bisa menahan nangis dibanding cewek. Gender masih bermain dalam hal ini,” ungkapnya.
Lantas, Liza pun menyarankan agar keluarga besar dan sahabatnya bisa mendampingi Ifan di tengah kesedihannya. Liza menegaskan sekali lagi, level rasa trauma dan duka seseorang berbeda, tak bisa disamakan.
“Saran saya iya, sahabat harus menemani. Bisa juga terus berserah diri secara agama ya, itu be good banget untuk membuatnya lebih lega,” tandasnya.
Sumber : Pojoksatu.id
