Gambar Garuda Pancasila Sebagai Lambang Negara, Ini Mitologi dan Sejarahnya?

BERITA NASIONAL – Gambar burung garuda, atau Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia. Perdebatan kerap muncul mengenai burung Garuda, yang hingga kini yakni keberadaan burung tersebut yang sesungguhnya.

Garuda sejatinya makhluk mitos, yang telah di kenal warga Indonesia sejak dahulu kala melalui cerita pewayangan. Kisah Garuda, juga tertulis dalam kitab Mahabharata dan Purana dari India.

Tak hanya itu, kisah Garuda sudah di kenal melalui cerita-cerita rakyat, hingga relief atau pahatan-pahatan di banyak candi di Indonesia. Hal tersebut yang kemudian di jadikan dasar Panitia Lencana Negara,  menentukan gambar Garuda sebagai lambang Negara yakni Pancasila.

Baca juga : Kumpulan Link Twibbon Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021

Berdasarkan mitologi yang di yakini, hingga kini Garuda merupakan burung yang berani hingga mau berkorban melawan kedzaliman, sampai ke titik darah penghabisan.

Kisah itu terdapat dalam cerita Ramayana, di mana burung itu berhadapan dengan Rahwana hingga kehilangan nyawanya.

Ramayana mengisahkan penculikan Sita atau Shinta oleh Rahwana, Raja Kerajaan Alengka yang ingin mengawininya. Suara tangisan Sita terdengar oleh burung Garuda, yang bersahabat dengan Rama, suami Sita.

“Dalam cerita Ramayana, Garuda itu kan melawan Rahwana. Itu bentuk perjuangan. Waktu Sita di bawa Rahwana, dia coba di bebaskan burung Garuda, kemudian Garudanya mati di bunuh Rahwana,” kata Sejarawan Restu Gunawan kepada CNNINdonesia.com, Senin (31/5).

Nilai Semangat

“Semangat dan nilai itu lah yang diambil, bahwa Indonesia harus mempunyai nilai melawan penzaliman,” tuturnya.

Sementara itu, lahirnya burung Garuda sebagai lambang Negara, bermula setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949. Kala itu, Indonesia di rasa perlu memiliki lambang negara, sehingga disiapkan panitia khusus untuk hal tersebut.

Panitia teknis yang lebih di kenal dengan Panitia Lencana Negara, di buat secara khusus di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II. Kemudian  Mohammad Yamin sebagai ketua, dan anggotanya adalah Ki Hajar Dewantara, M A Pellaupessy, Mohammad Natsir serta RM Ng Poerbatjaraka.

Mereka di tugaskan untuk menyeleksi usulan rancangan lambang Negara, melalui sayembara.

Berita lain : Bakal Berduet Dengan PDIP di 2024, Begini Kata Politisi Gerindra di Jambi

“Di buat sayembara untuk menggambar seperti apa. Berdasarkan kesepakatan, terdapat dua rancangan dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin,” kata Restu.

Setelah itu, gambar tersebut di bawa dan di perlihatkan pada Sukarno. Persetujuan tidak langsung begitu saja, beberapa kritik di lontarkan atas gambar tersebut, seperti pada bagian kepala dan kaki burung Garuda.

Sukarno kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut dengan menambahkan jambul di kepala burung. Serta membuat kakinya mencengkeram dan berada di depan pita, bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, bukan di belakang pita.

“Jadi bentukan terakhir yang bagus, seperti saat ini itu atas arahan Sukarno,” ucap Restu.

Burung dan Simbol Status

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa-Putra menilai, selain dari mitologi, pemilihan burung Garuda sebagai lambang negara juga tak bisa di lepaskan dari kebudayaan Jawa. Khususnya priyai, kelas sosial dalam golongan bangsawan.

Hal tersebut terlihat dari lima hal yang di yakini, menyempurnakan pria Jawa, yakni wismo (rumah), wanito (istri). Selanjutnya turonggo (kuda), kukilo (burung), dan curigo (senjata).

Terpisah, pusat pemerintahan Hindia Belanda dan tokoh pergerakan nasional kala itu juga berkecimpung di Jawa.

“Dalam orang Jawa, salah satu harta yang ideal itu kan kukilo. Kan ada wismo, wanito, turonggo, kukilo, dan curigo. Salah satunya itu burung. Karena dalam dunia orang Jawa itu penting. Saya kira kita tidak bisa lepas dari konteks itu,” kata Heddy pada CNNIndonesia.com.

“Jadi kenapa burung Garuda? Karena itu jelas sekali dalam konteks Ramayana dan masyarakat secara tradisional menyukai burung, kelas priyai salah satu simbol statusnya kan burung.” Tambhanya.

Berdasarkan kedua hal itu lah Ia meyakini, para Panitia Lencana Negara sepakat mengadopsi nilai-nilai Garuda, menjadi lambang negara.

“Kalau melihat konteks Indonesia saat itu ya sangat pas. Indonesia sedang berjuang melawan penjajah. Saat itu penjajah kan orang dari luar, dalam konteks tertentu Belanda di sebut seperti raksasa. Itu seperti Rahwana. Makanya itu di nilai cocok,” kata Heddy.

Pemakaian Garuda Pancasila sebagai lambang Negara, pertama kali secara resmi dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950.

Berita lain : Innalilahi, Pintu Kapal Amblas, Mobil Terjun ke Danau Toba

Bentuknya pun seperti yang di kenal saat ini, yakni kepala menoleh ke kanan, simbol-simbol Pancasila di badannya. Terakhir, semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis di atas pita, yang dicengkeram kaki Garuda.

Burung Garuda memiliki 17 helai di sayap, 8 helai bulu ekor, 19 helai bulu pangkal ekor. Dan 45 helai bulu leher, yang melambangkan kemerdekaan Indonesia yakni 17-08-1945.

 

Sumber : CNNIndonesia.com

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube