Dirnarkoba Bantah Soal Kekerasan Pada Tahanan Meninggal, Kapolda Jambi Masih Bungkam

JAMBI – Dirnarkoba Polda Jambi bantah soal dugaan kekerasan, terhadap Tahanan Narkoba meninggal waktu lalu. Sebaliknya Kapolda Jambi hingga kini masih bungkam, ada apa?

Kasus tahanan Mapolda Jambi, yang diduga ada unsur kekerasan yang dilakukan oleh oknum petugas kepolisian, terus menjadi sorotan.

Baca juga : Pengamat Kepolisian Sayangkan Tahanan Meninggal di Polda Jambi

Dirnarkoba Polda Jambi Kombes Pol Dewa Putu Gede, saat dikonfirmasi membantah hal itu. Sedangkan, Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi masih bungkam.

Awalnya, Kombes Pol Dewa Putu Gede menjelaskan bahwa untuk kelanjutan dari kasus tahanan, selaku tersangka saat ini sudah SP3 atau penghentian penyidikan.

“Kalau kelanjutan kasusnya, karena dia tersangka meninggal dunia, ya kita SP3 untuk kasusnya. Karena tersangka kan meninggal dunia,” katanya, Rabu (22/07/2020).

Lanjut Dirnarkoba

Selanjutnya, berbeda dengan penjelasan ibu kandung Tahanan Ernawati. Dirnarkoba Polda Jambi itu menyebut, bahwa dari awal tidak ada tindak kekerasan, yang dilakukan oleh petugas kepolisian.

“Dari awal penanganan kasus itu, ya kalau ada kekerasan tentu dia akan protes. Tetapi, ada temannya itu yang ditangkap bersama dia, tanda-tanda kekerasannya gak ada.” Jelasnya.

Waktu meninggal pun, sambungnya pihak keluarga sudah datang ke rumah sakit, dan tidak ada tanda-tanda kekerasan.

Kemudian, saat disinggung bahwa pihak keluarga 5 hari setelah penangkapan baru diizinkan bertemu korban, Kombes Dewa Putu Gede juga mengaku itu tidak benar.

2 Hari Ditangkap

Katanya, setelah 2 hari ditangkap pihak keluarga sudah boleh membesuk tersangka.

“Bukan 5 hari setelah ditangkap, tapi 2 hari setelah ditangkap dia sudah datang. Hari pertama memang ibu nya datang, tapi tidak bisa ketemu anaknya, karena lagi diperiksa untuk perkembangan kasusnya. Hari kedua ketiga sudah bisa ketemu,” paparnya.

Beda Dari Keterangan Keluarga

Mengejutkan lagi, malah Dirnarkoba Polda Jambi ini mengatakan hari kelima orang tua korban tidak bertemu korban.

Sedangkan pengakuan Ibu korban, hari ke 5 baru bisa bertemu anaknya. Hal ini pun juga dibenarkan oleh abang sepupu korban Nugraha, bahwa hari ke 5 baru bisa bertemu korban.

Tak ayal hal ini pun menjadi tanda tanya besar bagi publik, mengingat keterangan pihak kepolisian dengan pihak keluarga sangat jauh berbeda. Ada apa?

Masih dari keterangan Dirnarkoba Polda Jambi, bahwa ia menyebut jika ada kasus seperti demikian, pihak keluarga pasti tidak terima.

“Yang namanya pihak keluarga, kalau ada kena kasus apalagi meninggal, tentu tidak terima.” Imbuhnya.

Bahkan ia menyatakan, ketika disebut Kapolda Jambi Balum menjawab saat dikonfirmasi, Kombes Dewa Putu Gede bilang jika ada yang perlu keterangan mengenai kasus tersebut, cukup hubungi dia. Ada apa ?

“Konfirmasi ke saya saja, kalau ada minta data atau informasi apa. Karena pada waktu penangkapan pun itu di tempat umum, di tempat rame.” Tambahnya.

Selain itu, dirinya juga menyebutkan bahwa tidak mungkin saat penangkapan tersebut terjadi kekerasan. Apalagi di tempat yang ramai banyak orang.

“Saat itu juga dia mau berusaha kabur, pas orang rame. Maka ditariklah tangannya, tidak ada kekerasan. Terjadilah berkumul tarik menarik, sampai dapat ditangkap anak buah saya. Yang namanya nangkap orang, pasti terjadi tarik menarik berkumul. Tapi pemukulan kekerasan itu gak ada.” Ungkapnya.

Tak hanya itu saja, menurut dia korban juga kurang jujur saat dilakukan pemeriksaan. Dimana saat ditanya berapa kali menggunakan narkoba, tersangka mengaku sebulan sekali.

“Tapi pada saat dia kritis di rumah sakit, karena gejalanya seperti putus obat. Baru dia jujur dengan dokter, tiap hari makainya. Dia bilang tiap hari pakai sabu. Itu menurut dokter lah, saya tidak tahu soal medis.” Jawabnya dengan suara agak terputus-putus.

Keterangan Pihak Keluarga Waktu Lalu

Sementara itu, belum lama ini pengakuan Nugraha Abang sepupu korban bilang, bahwa dari hari pertama korban ditangkap, awalnya dibawa ke hotel Shang Ratu terlebih dahulu untuk diperiksa.

“Pas malam ditangkap itu, Ripan tidak langsung dibawa ke Polda, tapi dibawa ke Hotel Ratu di Broni. Ini dia sendiri yang cerita ke saya dan mama nya. Jadi disitu dia pres, disuruh ngaku,” ujar Nugraha.

Saat itu juga, Ripan masih tetap tida buka suara, karena kata Nugraha memang adiknya tersebut tidak punya bos. Dia hanya beli paket barang, seharga Rp 200.000.

“Dia itu mau ngaku apa, karena dia sendiri tidak tahu siapa bosnya. Posisinya kan dia itu beli. Dia ada duit beli dan temannya, bukan barang dari dia. Dan temannya tadi ngaku bosnya dari LP. Kita gak tau Ripan ini emang ngedar atau gimana, tapi dia gak tau dimana tempat dia membeli.” Paparnya.

Kata Ibu Korban

Hal senada juga disampaikan sang Ibu Ernawati, dimana kala itu anaknya yang tidak tahan terus dipukul petugas, akhirnya pun membalas.

“Polisi mukul pakai ikat pinggang yang ada besinya itu, dibalas sama si Ripan. Waktu dipukul itu, Ripan gak ngaku. Katanya, ma biar aku mati ma, aku gak ada bos. Bilang Ripan gitu,” bebernya.

Karena si Ripan belum ngaku, akhirnya petugas kepolisian terus memukulnya sampai minta ampun, terus dipukul.

“Karena gak kuat dipukul, ditariknya ikat pinggang polisi itu dibalas. Karena itu akhirnya Ripan lebih parah lagi dipukul oleh polisi itu, itu menurut cerita versi almarhum.” Katanya.

Naasnya lagi, setelah dibawa ke Mapolda Jambi, selama 4 hari Ripan tidak dibolehkan bertemu dengan keluarganya, dengan alasan Corona dan sebagainya.

Setelah 5 hari ditangkap, pihak keluarga terus mendesak untuk bertemu Ripan, dan akhirnya diperoleh oleh Petugas kepolisian Polda Jambi.

“Pas ketemu itu, saya melihat kondisi Ripan tengah sakit-sakit. Matanya biru, dan hampir mata putihnya hilang ditutupi oleh darah beku. Seperti habis dipukul, dan punggung nya pun juga sakit, sampai ke pinggang.” Imbuhnya ibunya sambil menangis.

Tak tahan melihat anak semata wayangnya tersebut menderita, Erna pun langsung memeluk anaknya dengan air mata yang menetes di pipinya.

Saat dipegang badannya, Ripan mengaduh karena kesakitan. Namun ketika Erna mau buka bajunya, Ripan mengelak dan bilang ‘aku baik-baik saja, ibu jangan banyak pikiran’.

“Saya menangis melihat kondisi anak saya kesakitan seperti itu. Saya bilang pada polisi, kalau anak saya sakit bawa k rumah sakit pak kata saya. Saya buka lengan bajunya, ada beberapa yang dikasih perban.” Timpalnya.

Pihak Keluarga Sebut, Hingga Meninggal Masih Berbekas Lebam

Selain itu, saat dijenguk ibunya tersebut detak jantung Ripan sangat kencang, hingga terlihat dari luar bajunya bergetar. Sehingga kesedihan Erna pun makin bertambah.

“Saya lihat dadanya bergetar dari luar bajunya itu, sambil nafasnya sesak. Kasian sekali anak ku,” ungkapnya.

Bahkan, hingga jenazahnya dimandikan, tubuh ripan masih terlihat jelas biru-biru di badannya bekas memar.

Lihat juga video : Klik Disini

“Sampai ia dimandikan, di badannya itu masih ada Biru-biru memar, bekas pukulan.” Tandasnya.

Kapolda Jambi Belum Ada Tanggapan Alias Masih Bungkam

Pun demikian, hingga saat ini masih mengenai kasus tersebut, Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi saat dikonfirmasi Dinamikajambi.com, Kamis (2307/2020) masih bungkam dan belum memberikan tanggapan.

Saat ditelepon melalui selulernya, Kapolda Jambi ini tidak pernah menjawab. Demikian juga dikirim pesan singkat melalui WhatsApp, tak pernah direspon, hanya dilihat saja. Ada apa ? (Red)

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033