JAMBI – Heboh salah satu siswa di SMAN 8 Merangin terpaksa harus pulang tanpa mengenakan sepatu, karena ditahan gurunya dengan dalih uang SPP sekolah yang belum lunas. Benar sepatu siswa ditahan, tapi bukan karena tak bayar SPP?
Namun dari komite sekolah maupun bagian kesiswaan, membantah penahanan sepatu terkait pembayaran uang SPP.
Sebelumnya, sebuah postingan akun Facebook @Radja Syarifullah yang dibagikan ulang oleh akun @Alpin di branda Facebooknya, Selasa (17/09/2019) malam mengegerkan.
Dalam postingan tersebut, akun FB @Radja Suarifulla mengeluh akibat sepatu anaknya ditahan oleh guru disekolahnya, karena dirinya belum bisa melunasi uang SPP sekolah sebesar Rp 2.070.000.
Firdaus Sianturi, Sekretaris Komite SMA Negeri 8 Merangin menyayangkan postingan tersebut. Ia mengungkapkan jika, berdasarkan hasil rapat para orang tua sepakat untuk iuran senilai Rp 70.000 ribu. Uang ini, untuk biaya sekolah dan keperluan pembayaran gaji guru honorer.
Baca Juga : Satpol PP Merangin Turun ke Pamenang, Ada 40 Persen Usaha Tak Berizin
“Semua sudah sepakat, bayar Rp 70.000 setiap bulan. Hampir 90 persen orang tua sepakat. Ada ditandatangani dan ada Berita Acaranya. 10 persen juga sepakat lewat telepon atau lainnya karena tak bisa hadir,” ungkap Firdaus saat dikonfirmasi DinamikaJambi.com, Selasa (17/09/2019) malam sekitar pukul 21.00 Wib.
Masih dikatakan Sianturi, kesepakatan pada 9 Juli 2019 itu, meliputi biaya untuk seragam sekolah para siswa, atribut seperti jilbab hingga kaos kaki. Hal ini dilakukan untuk seragamnya para siswa di sekolah yang berada di Kecamatan Pamenang itu.
“Bahwasanya SPP yang 70 ribu itu, atas kesepakatan juga. Karena masih ada honor, seperti guru, satpam seterusnya. Dan ada juga masih honor guru komite,” terangnya.
Lalu bagaimana dengan sepatu yang disebut sudah 3 minggu ditahan oleh gurunya. Saat mau diambil ke sekolah, pihak guru malah tega meminta kepada anak tersebut untuk melunasi uang SPP.
Waka Kesiswaan Soal Sepatu
Terkait hal ini, Waka Kesiswaan SMA Negeri 8 Merangin, Nursiah berhasil dikonfirmasi awak media. Ia membenarkan adanya penahanan sepatu tersebut. Namun berbeda dengan postingan siswa yang viral, Nursiah menyebutkan bahwa penahanan itu untuk kedisiplinan.
“Jadi saya waktu itu seperti biasa menertibkan siswa pada upacara. Kegiatan rutin saya sebagai Waka Kesiswaan menertibkan pakaian, keseragaman, kelengkapan. Nah hari itu, siswa saya ini tak pakai PDH,” ungkapnya.
Berita Lainnya : Sekolah Favorit di Pamenang Ini, Segera Jadi Sekolah Percontohan
Baca Juga : Fachrori Hadiri Upacara Penurunan Bendera HUT Ke 74 RI
SMA Negeri 8 sendiri menerapkan aturan pemakaian sepatu PDH berdasarkan kesepakatan sekolah dan komite serta orang tua. Selain sepatu, Nursiah juga menertibkan pemakaian jilbab.
Nursiah membantah, jika penahanan dikaitkan dengan pembayaran SPP. Sebaliknya, sang siswa diklaim tidak mengikuti ketertiban seperti pada buku siswa yang tak kunjung dikembalikan ke sekolah.
Sepatu Ditahan Karena Tak Tertib
“Dia ini tidak mengumpulkan buku tata tertib. Buku ini wajib ditandatangani orang tua. Ini kesepakatan antara TU, Komite dan orang tua. Sampai hari ini, buku ini tidak dikumpulkan. Sementara yang lain ngumpul. Saat ditanya, dia bilang ditahan mamak. Nanti dikumpul, sekalian melunasi. Saya bilang, tidak ada hubungannya tata tertib dengan pelunasan,” papar Nursiah.
Sekolah mengklaim sebenarnya sudah memberikan solusi atas siswa tersebut. Misalkan pada status tidak mampu, sekolah mendorong untuk membuat surat keterangan tidak mampu dari desa.
Berita Terkait : Telat Bayar SPP Sekolah, Sepatu Siswa di SMAN 8 Merangin Ditahan
“Hari Senin (16/09/2019) kemaren. Dipanggil Kepala Sekolah. Kalau memang tak mampu, coba minta surat keterangan dari desa. Nanti biar sekolah cari solusi,” katanya.
Kata Nursiah, siswa tersebut tercatat 5 kali tidak mengikuti upacara. Pihak sekolah, sudah melayangkan surat pada orang tua. Bukan soal pembayaran, tapi terkait kedisplinan. Namun sayangnya, surat itu tak jelas rimbanya.
“Nak, suratnya dikasih dak? Saya kasih bu. Kemana dikasih? Ke bapak bu. Surat diterimanya. Dibuka pun tidak,” kata Nursiah mengulang pembicaraan tersebut.
(Erw)
