MERANGIN – Keberadaan Suku Anak Dalam (SAD) sedianya berada di kawasan hutan. Namun sudah belasan hingga puluhan tahun, kelompok demi kelompok SAD, sudah bermukim di pinggiran kota maupun kota-kota di sejumlah kabupaten di Provinsi Jambi.
Perpindahan ini semakin hari, semakin mencolok. Kelompok-kelompok kecil ini mulai terlihat meminta-minta. Seperti halnya pengemis.
Kawasan kuliner di tengah Kota Bangko, menjadi tempat yang sering dijumpai kelompok ini. Datang bergantian dengan pengamen maupun ‘anak punk’ yang berkeliaran.
“Bukankah mereka sudah di beri hutan? Pemukiman SAD? Pertanda apa ini?,” tanya pengunjung saat menjumpai seorang anak perempuan SAD di kawasan Kantin PKK.
Siti, nama anak perempuan yang meminta-minta pada pengunjung. Ia menjawab, datang bersama ibunya saat ditanyakan awak media.
Sesosok perempuan bertubuh besar, bersembunyi di balik motor pengunjung. Tak hanya Siti, anak laki-laki lebih kecil tampak ikut dengan ibunya.
Kondisi ini, membuat risih para pengunjung. Jika SAD atau juga dikenal Orang Rimba mendapatkan perhatian pemerintah pusat, kenapa pemerintah daerah tak memberikan perhatian? Begitu kata pengunjung.
“Apalagi mereka ini berada di tengah kota. Orang-orang datang dari mana saja. Ini akan menimbulkan kesan buruk pada pemerintahan. Mereka membiarkan SAD, lalu pemerintah pusat melihat kondisi ini,” beber Ranto, salah satu karyawan swasta di Kota Bangko.

Tak hanya di tempat kuliner itu, kelompok ini juga melakukan hal sama di kota lain. Potret ini, tak jarang menyebar luas di media sosial.
