MUAROJAMBI – Menurut sumber data riset yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Dasar Nasional, sebanyak 50,06 balita di Kabupaten Muarojambi mengidap masalah stunting atau bertumbuh pendek.
Sedangkan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO), angka penanganan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada bayi dalam waktu lama, sehingga menyebabkan terhambatnya masa pertumbuhan pada bayi yang tinggi badannya tidak sesuai dengan usianya ini, baru 30 persen dilakukan tindakan pencegahannya.
“Ya bila berdasarkan hasil dari riset dari kementrian dasar kesehatan nasional angka balita pengidap stunting di Kabupaten Muarojambi sebanyak 50,06 persen,” ungkap Zainal Abidin, Kadis Kesehatan Kabupaten Muarojambi melaui Sekretaris Dinas, Yes Isman.
Sambungnya, dalam pencegahan masalah orang pendek atau cebol agar tidak bertambah di Kabupaten Muarojambi, saat ini bisa dilakukan dengan cara interfrensi sfesifik yakni dimulai dari pemberian tablet darah pada remaja, ibu sebelum hamil dan hamil, dan ibu menyusui berlanjut kepada bayi dan balita.
“Karena masalah orang pendek ini hanya bisa diketahui dari bayi hingga balita saja, maka pencegahannya dimulai dari remaja hingga masa ibu menyusui,” terangnya
Kemudian, 70 persen penyebab masalah stunting, adalah masalah kurangnya akses air bersih yang belum diukuran diatas 80 persen baik. Kemudian, akses sanitasi seperti pembuangan kotoran, sampah dan limbah yang sembarangan. Dan yang terakhir, pola menkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh zat zat kimia.
“Air bersih, sanitasi dan pangan, 3 hal tersebutlah saat ini menjadi interfrensi sensitif dominan dalam pencegahan masalah orang pendek di Muarojambi saat ini,” ungkapnya.(Din)
