BERITA BISNIS – Kabar buruk bagi petani saat ini. Pasalnya, Kamis (29/10) Minggu ini harga sawit di Jambi mulai melemah. Padahal, di pasar dunia harga CPO masih Tetap Kokok, atau tinggi.
Tak ayal, harga sawit di Jambi yang saat ini mulai melemah tentunya menjadi kabar buruk, bagi para petani. Apalagi, disituasi ekonomi yang tengah menurun di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi.
Baca juga : Kabar Gembira Bagi Pecinta Film Jambi, Cinema XXI Akan Dibuka Kembali
Sebagaimana diketahui, dari penetapan Harga TBS Provinsi Jambi periode 30 Oktober, hingga 05 November 2020 mendatang terjadi penurunan. Meskipun tidak begitu signifikan.
Berdasarkan hasil rapat Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, bersama pihak terkait lainnya di Kabupaten Kota, harga sawit di Jambi turun.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perkrbunan Provinsi Jambi Agus Rizal, saat dikonfirmasi awak media ini.
“Harga rata-rata CPO Rp. 9.150,80, rata-rata Inti sawit Rp. 4.395,78, dan Indeks K 89,86 persen,” ungkapnya.
Selanjutnya, untuk harga TBS umur 10-20 tahun sebesar Rp. 2.006,45 Perkilogram. Terjadi penurunan harga sebesar Rp. 27,68 Perkilo, dari periode yang lalu.
“Dan penurunan harga rata-rata TBS, menurut umur tanaman sebesar Rp.21,23 Perkilogram,” tambahnya.
Pun demikian, tidak disampaikan apa penyebab turunnya harga tersebut. Ia hanya bilang, kalau untuk Minggu ini harga sawit di Jambi terjadi penurunan.
Harga CPO Masih Kokoh
Sementara itu, dilansir dari CNBC Indonesia pada Rabu kemarin (28/10) harga minyak sawit mentah (CPO), Negeri Jiran juga melemah tipis. Hal itu akibat adanya aksi ambil untung.
Namun prospek output yang lebih rendah, membuat harga tetap kokoh, dan masih tinggi di level RM 3.000/ton.
Pada 10.40, harga CPO untuk kontrak pengiriman tiga bulan (Januari 2021), di Bursa Malaysia Derivatif Exchange, melemah 0,29% ke RM 3.056. Kemarin harga CPO ditutup di RM 3.065/ton.
“Harga turun karena aksi ambil untung, dan karena pasar sudah menunjukkan level jenuh beli (overbought),” kata seorang pedagang yang berbasis, di Kuala Lumpur kepada Reuters.
Selain akibat aksi ambil untung, harga CPO juga turun, mengekor harga minyak nabati substitusi lain yang terkoreksi. Harga kontrak minyak kedelai dan sawit, di Bursa Komoditas Dalian masing-masing terkoreksi 0,7% dan 0,4%.
