BERITA POLITIK – Datangkan para Tokoh Akademisi, Pengamat, Praktisi hingga Penyelenggara Pemilu Jambi, Kenara Institut, besutan kedai fenomenal gelar diskusi publik, Sabtu (19/02/2022) sore.
Bertempat di Aston Hotel Jambi, salah satu kelompok diskusi besutan Kedai Pinang Merah tersebut, berhasil menuai antusias dari berbagai kalangan masyarakat.
Benar saja, diskusi tersebut mengundang berbagai Tokoh Jambi yang tak kalah fenomenal. Diantaranya, Akademisi As’ad Isma, Pengamat Politik Dedek Kusnadi. Lalu, Nuraida Fitri Habi Kordinator Presidium Jaringan Indonesia, hingga Anggota Bawaslu Provinsi Jambi, Wein Arifin.
Djokas Siburian, Direktur Kenara Institut menuturkan, diskusi publik yang akan dilakukan secara rutin tersebut, bertujuan sebagai sarana edukasi masyarakat di Jambi. Sehingga, menghasilkan kajian issu yang objektif dan membangun.
“Sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, baik itu politik, ekonomi, dan lainnya. Sehingga, topik tersebut telah melalui proses kajian dari para ahli. Tentu, ini akan meluas dan melibatkan lintas sektoral. Kalau hari ini politik, besok ekonomi, kewirausahaan, seni dan budaya dan lainnya,” tukas Djokas.
Pemilu 2024
Selanjutnya, di sela-sela menyampaikan tema diskusi, Akademisi Jambi As’ad Isma menjelaskan, dibutuhkan kesiapan dari masyarakat dalam membangun kualitas Pemilu.
Bilangnya, pada Pemilu 2024 mendatang, berpotensi terjadi polarisasi di tengah masyarakat. Seperti misalnya, pada Pemilu 2019 lalu, polarisasi antara ‘Cebong’ dan ‘Kampret’.
Baca Juga : Kenara, Tempat Nongkrong Aktivis Jambi Yang Punya Konsep Unik
“Kalau kita lihat, peta pemilih akan muncul pertarungan 2 kutub besar. Yaitu, kutub konservatisme dan moderat. Tentu, kita meyakini masih banyak kelompok, yang konsisten membangun Indonesia bersama-sama,” ungkap As’ad.
Senada dengan As’ad Isma, Wein Arifin Anggota Bawaslu Provinsi Jambi, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi memantau pelanggaran Pemilu.
Lihat Video : Grebek Pabrik Air Mineral, WIGO PT Afresh Indonesia Yang Lagi Viral
“Tantangannya, praktik money politik masih berpotensi terjadi. Kedua, Politisasi SARA, pasalnya kita sebuah negara yang multikultural, sehingga itu alat untuk mendulang dukungan. Ketiga, black campaign menggunakan buzzer.” tukas Wein.
(Tr01)
https://www.youtube.com/watch?v=YtzSaL3UKzY
