JAMBI – Tindak lanjuti instruksi Kapolri, aksi premanisme langsung kecut. Tak ketinggalan di Polda Jambi yang amankan 114 orang preman, 3 diantaranya dari Pasar Angso Duo yang malah terbilang heboh.
Antisipasi tindak Pidana serta Premanisme di Wilayah Hukum Polda Jambi, Tim Ditreskrimum Polda Jambi beserta jajaran berhasil amankan preman dan parkir liar.
Baca juga : Terekam CCTV, Diduga 2 Emak-Emak di Jambi Maling Kotak Wakaf Masjid
3 orang dari 114, datang dari Pasar Angso Duo Modren yang di amankan Polsek Telanai. Konon, ketiganya meresahkan pembeli dan bahkan pedagang di pasar itu.
Tak ayal, penangkapan itu langsung heboh dan mendapat respon positif dari pengelola pasar.
Purnomosidi, Pengelola Pasar Angso Duo menyampaikan hal itu pada awak media, Senin (14/6/2021) siang. Bilangnya, hal itu membuat nyaman pengunjung dan pedagang yang memang mereka upayakan.
Bukan berlebihan, pengelola pasar ternyata telah berulang kali menangkap juru parkir atau pun parkir liar itu.
“Kita mengapresiasi Kapolda, hadirnya pemerintah dari sisi aparat keamanan. Di Jambi merespon cepat program yang di instruksikan oleh Kapolri,” katanya.
Menariknya, Kapolsek Telanai turun langsung ke Pasar Angso Duo. Bilang Purnomosidi, kedatangan kapolsek yang terbilang mendadak itu merupakan instruksi dari Polda Jambi menindaklanjuti dari Kapolri.
Juru Parkir PT EBN
Purnomo yang awak media temui di kantor PT EBN itu, menyampaikan masih ada puluhan juru parkir liar di pasar tersebut.
Lalu, siapakah ketiga orang tersebut? Dari mana mereka datang? Purnomosidi yang didampingi Maiful Efendy dari bagian hukum PT Eraguna Bumi Nusa menjelaskan bahwa mereka dari luar.
PT EBN sendiri mengelola parkir dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Jambi. Ijin itu keluar pada 2019 lalu.
“Mereka tidak memiliki identitas untuk tergabung dengan manajemen pasar,” paparnya.
Sekedar informasi, biaya parkir di Pasar Angso Duo ini untuk jenis motor Rp 2000/unit, sedangkan untuk mobil tarifnya Rp 3000/unit. Manajemen tak memungut biaya perjam atau waktu tertentu.
“Kita tidak pakai progresif,” kata Maiful.
Bicara kerugian, Maiful mengatakan pihaknya belum menghitungnya. Namun yang paling merugikan, adalah image pasar tersebut.
“Kerugian moril,” katanya.
