BISNIS – Budidaya pakan alternatif tengah berkembang di banyak daerah termasuk Merangin. Tapi Merangin terancam malu oleh Bungo dan Kerinci yang melirik budidaya ulat Maggot.
Kok bisa Merangin malu? Bagaimana pula Budidaya Ulat Maggot tersebut?
Secara singkat, bisnis ternak larva atau ulat dari jenis Black Soldier Fly (BSF) ini menekan pengeluaran peternak.
Pasalnya Maggot, dapat menghemat biaya pakan yang sebelumnya kerap membuat peternak tak bisa meraih untung, atau malah merugi.
Harga Maggot yang rendah, namun memiliki protein yang tinggi bahkan dari pakan pabrikan, membuatnya jadi incaran.
Belum lagi, Maggot bisa menjadi pakan ikan, ayam, bebek atau belakangan ini sudah diterapkan untuk sapi.
Karena itulah, Maggot terus dikembangkan hingga menjadi banyak manfaat. Selain larva, maggot juga sudah berbentuk pelet dan ada pula yang membuatkan pupuk.
Pengembangan inilah yang menjadi harapan puluhan peternak yang tergabung di Merangin Eco Green’t yang dikomandoi Dani Wahidin.
Ia menjadi perintis ternak Maggot di Provinsi Jambi sejak 2018 lalu. Dani yang sempat jadi bahan tertawaan rapat bersama dinas terkait itu, kini telah menyebarkan budidaya di banyak kabupaten/kota.
Patut dipuji, Dani tak memunggut biaya saat memberikan edukasi dari individu maupun kelompok yang datang padanya.
“Kalau di jawa sana, biaya bisa sampai Rp 2 jutaan,” katanya.
Dukungan Minim
Kegigihan Dani itu lantaran melihat Kabupaten Merangin hanya menjadi pasar ternak yang datang dari luar seperti Sumatera Barat maupun Sumatera Selatan bahkan Lampung.
Seperti misalkan kebutuhan ayam, ikan dan lain sebagainya. Sementara peternak di Merangin, tak kunjung berkembang lantaran biaya produksi, pakan yang tak seimbang.
“Dari ayam, ikan itu datang dari luar Merangin. Peternak kita bagaimana?,” katanya.
Bila Komunitas Pembudidaya Maggot di Merangin terus berkembang bahkan keluar daerah, dukungan pemerintah daerah terbilang masih minim.
Padahal, selain membantu ketersediaan pakan dengan harga murah, keberadaan pembudidaya lalat BSF ini sangat membantu mengurangi sampah di Merangin.
Pembudidaya memanfaatkan sampah organik untuk pembesaran larva maggot.
Berdasarkan penelusuran awak media, pembudidaya di daerah lain mendapatkan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dalam kebutuhan sampah organik. Bahkan mereka mendapatkan fasilitas tempat dari pemerintah.
Budidaya Ulat Maggot di Merangin
Lalu bagaimana dengan Merangin? Sebagai perintis Maggot di Jambi, Merangin terancam malu melihat antusias daerah lain.
Baca Juga : Budidaya Maggot Merangin, Dari Sampah Jadi Rupiah
Hal ini terlihat dari kedatangan Wakil Bupati Kerinci, Ami Taher baru-baru ini ke Merangin Eco Green di Lorong Ceria Kota Bangko.
Ami Taher yang didamping Sekda Merangin, Fajarman dan Kepala Dinas Perikanan, Moh Damay terlihat antusias.
Belakangan, budidaya di Bungo tumbuh pesat. Terakhir malahan mahasiswa dari Universitas Muaro Bungo telah turun ke peternakan di Merangin, akhir pekan lalu.
Lihat Video : Melihat Budidaya Azolla di Merangin, Pakan Alternatif Penyelamat Peternak
Saat ini, Dani dan ratusan peternak dalam komunitasnya mendapatkan dukungan dari Dinas Perikanan Merangin. Pembudidaya berharap dukungan besar dari pemerintah.

“Tentu saja kita tak ingin Merangin sebagai perintis, malu di kemudian hari,” bilang Dani.
Tak main-main memang, demi menjaga nama Merangin, komunitas ini merehab sendiri peternakan Merangin Eco Green dari kantong mereka.
Pasalnya, tempat itu menjadi sentral peternak dan menjadi tempat kunjungan tamu maupun peternak dari luar daerah.
