BERITA NASIONAL – Hari gizi dan makanan nasional, di peringati setiap tanggal 25 Januari. Di ketahui pada tahun 2021 ini, merupakan yang ke-61.
Dalam rangka memperingati hari gizi dan makanan nasional, Menkes Indonesia menyampaikan pesan-pesannya melalui kanal Youtube Kementrian Kesehatan, Senin (25/1/2021).
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan, Budi Gusnadi Sadikin menyampaikan, kesehatan remaja menjadi penentu masa depan perekonomian Indonesia.
Baca Juga : Pentingnya Protein Untuk Tubuh, Namun Tak Suka Makan Ayam, Ini Solusinya
Seperti yang di ketahui, saat ini Indonesia telah masuk dalam jajaran negara 20 ekonomi terbesar di dunia, yaitu G20 dan berada di peringkat ke 15.
Kemudian menurutnya, Indonesia bisa masuk 5 besar ekonomi dunia asal kesehatan remaja di perhatikan dengan baik.
“Tahun 2050 banyak orang memprediksi Indonesia masuk G5,” kata Menkes Budi.
Jumlah Generasi Muda
Selanjutnya ada 45 juta remaja Indonesia atau setara dengan 20 persen total populasi Indonesia keseluruhan. Jumlah generasi muda yang cukup banyak itu, akan menjadi penentu penting dalam pendapatan Gross Domestic Product (GDP) negara di masa depan.
Mantan wakil menteri BUMN itu menjelaskan, GDP di hitung dengan menjumlahkan total pendapatan semua perusahaan Indonesia dan setiap individu di Indonesia. Jumlah GDP Indonesia sekarang berjumlah Rp 14.000 triliun per tahun.
“Kaitannya dengan Hari Gizi Nasional ini, saya terinformasi Hari Gizi Nasional ke-61 ini ingin fokus ke remaja agar bebas anemia. Generasi muda bisa sangat mendongrak GDP, akan mendorong ranking ekonomi negara tersebut di tataran dunia nantinya, artinya kalau kita benar urus dari sekarang,” imbuhnya.
Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya asupan gizi remaja yang harus terpenuhi dengan baik. Sehingga mereka akan memiliki fisik yang kuat. Dan menekankan agar Kementerian Kesehatan, memberikan contoh penerapan program makan satu piring. Dengan nutrisi yang lengkap dan hidup bersih sehat juga rajin olahraga.
Lihat Juga Video :Di tengah Perjalanan, Bupati Setir Mobil Sendiri
“Pembangunan manusia di mulai dari fisik, di ikuti ketataran akal di mana kita akan menghasilkan orang yang pintar atau tidak pintar. Di lanjutkan di tataran hati, di mana tahu mana indah dan tidak. Dan di selesaikan paripurna di tataran jiwa. Di mana kita tahu yang di lakukan benar, bermanfaat atau tidak,” ungkapnya
Sumber : Suara.com
