KERINCI – Sungguh pilu, melihat nasib yang menimpa kakek tua di Kabupaten Kerinci, yang tinggal di gubuk sebatang kara jauh dari lingkungan masyarakat.
Kakek tua di Kabupaten Kerinci ini bernama Seh Ba’i, warga Desa Pancuran Tiga kecamatan Keliling Danau Barat Kerinci Provinsi Jambi.
Baca juga : Bantuan Covid-19 Dari Pemerintah, Jadi Polemik di Merangin
Nasibnya yang tinggal sebatang kara di gubuk itu pun, sangat memilukan untuk seorang yang tak lagi menginjak usia muda.
Betapa tidak, dengan usia menginjak sekitar 79 tahun, Seh Ba’i harus tinggal di gubuk mungil dengan ukuran tidak lebih dari 2 × 2 meter.
Tak tanya itu, gubuknya pun hanya dengan tinggi kurang dari 150 meter. Itu pun berdinding dan beratap terpal tipis, yang seketika bisa roboh ditiup angin.
Parahnya lagi, dari pantauan gubuk tersebut berdiri di atas tanah yang bukan miliknya. Bahkan berada persis di pinggir parit, yang waktu musim hujan debit airnya sangat besar.
Selain itu, ditempat tersebut diketahui langganan banjir bandang oleh warga setempat.
Itu artinya, kakek tersebut bisa saja terbawa arus. Apalagi, ia seorang penyandang tuna rungu.
Dalam gubuk tersebut, ia bahkan tidak bisa berdiri dan hanya bisa duduk. Kalau duduk pun tidak bisa meluruskan kaki, karena sempitnya ruangan itu.
Tak ayal, banyak warga yang memperhatikannya, dan berharap pemerintah bisa melihat, dan memberikan tempat yang layak kepada kakek tersebut.
Lihat juga video : Anggaran Awal Penanganan Covid-19, Ini Penjelasan Pj Sekda Provinsi Jambi
“Beliau perlu perhatian dan sangat berharap bantuan dari warga setempat, dan yang terpenting adalah dari pemkab Kerinci, karena untuk makan sehari – hari beliau hanya menunggu uluran tangan dari warga dan keluarga,” ujar Putra Jaya salah seorang warga.
Sementara itu, media ini kesulitan untuk mewawancarai Seh Ba’i, karena ia menyandang tuna rungu. (Jul)
