Ketergantungan Sawit Jokowi dan Masa Kelam Petani Karet Jambi

Celetukan Presiden RI, Joko Widodo untuk tidak tergantung pada sawit diterjemahkan berbagai ragam, antara lain dengan menterjemahkan agar kebun sawit dibabat, baru ditanami jengkol dan petai. Itu sah saja, tergantung pada nalar dan kesukaan dan cara pribadi masing-masing.

Pola ketergantungan pada satu produk pernah membuat Jambi colaps ketika pada tahun 1975 harga karet jatuh dipasaran tanpa harga. Sehingga petani karet Jambi waktu itu benar-benar terpuruk, tetapi petani kelapa di daerah pantai bahagia, dan petani kopi masih tetap segar.

Menyikapi hal itu muncul Program diversifikasi tanaman perkebunan, seperti cengkeh, cokelat, nilam, kopi dsb. Sayangnya ketika harga karet membaik program ini dilupakan.

Lalu munculah pembangunan perkebunan sawit secara besar-besaran, baik oleh perusahaan maupun oleh pribadi. Karet dilupakan dengan membabat selain hutan juga kebun-kebun karet. Tak kalah, etos Gubernur Jambi Alm. Zulkifli Nurdin menggagas pembangunan 1 juta ha kebun sawit, sebagai penggiat dalam kebijakan publik.

Saya mengingatkan Gubernur, agar tidak melanjutkan gagasan tersebut. Agar masyarakat tidak terjebak kembali dalam pola monokulur tanaman perkebunan.

Beberapa bulan setelah itu, terjadi krisis harga sawit yang membuat sebagian petani runtuh dan bahkan ada yg bunuh diri.

Ketika harga sawit kembali membaik, kembali pola diversifikasi tidak diperhatikan. Sa’at ini kembali harga kedua komoditas tersebut terpuruk sebagai akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi global dan adanya kampanye hitam terhadap hutan Indonesia oleh NGO dan sebagian negara asing.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap celetukan Jokowi, pada masa Gubernur Zumi Zola, saya mencoba mengingatkan kembali program diversifikasi tanaman perkebunan dengan membuat sebuah Proposal dengan Judul ROTANISASI PERKEBUNAN KARET RAKYAT.

Dengan tujuan, agar kebun karet rakyat di Propinsi Jambi tidak semata sebagai Produsen Karet tetapi juga sebagai Produsen Rotan, seperti beberapa Provinsi di wilayah Timur

Menyikapi luasnya kebun sawit yang ada namun berfungsi tunggal, sebagai produsen tandan buah segar sebagai bahan CPO, serta harga yang berfluktuasi tak terkendali, mungkin ide diversifikasi tanaman perkebunan perlu dibangkitkan kembali.

Saya fikir tanpa perlu membabat kebun sawit membuat tanaman sela yang bernilai tinggi sangat layak untuk dipertimbangkan. Satu tanaman yang layak dipertimbangkan adalah daun Nilam.

Mengapa Nilam? diketahui harga minyak nilam dunia sangat menggiurkan. Terlampir cuplikan harga minyak nilam dari info Pasar Komoditas.

Semoga semua pejabat pengambil dan pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan opini ini….

Penulis adalah mantan PNS di Kantor Gubernur Jambi dan Assesor Kompetensi di Bandiklat Jambi

CC.Dr.Agus Zainuddin, Dr.Doni Raja.

*Indonesia sebagai salah satu negara maritim yang menghasilkan minyak nilam dalam barel yang banyak, memiliki pasar impor yang tidak sedikit. Tercatat Amerika Serikat, Singapura, Inggris, Swiss, Prancis, Jerman dan Belanda mengimpor minyak nilam dari Indonesia. Didalam negeri saja, minyak nilam tersebar di beberapa penjuru daerah.

Mulai dari Surabaya, Medan, hingga ke Makassar. Harga minyak nilam di Surabaya tergolong stabil. Berkisar antara 450 ribu hingga 500 ribuan per kilogram. Harga ini termasuk murah jika dibandingkan dengan daerah lainnya, karena pasokan barang untuk bibit di Surabaya dan Pulau Jawa tidak terlalu memakan biaya banyak.

Berbeda dengan daerah yang berada di luar Pulau Jawa, tentu harganya pun jauh lebih tinggi. Pasokan barang dan distribusi ekspor-impor menjadi salah satu kendala penyebab minyak nilam masih tergolong mahal jika di luar Pulau Jawa.

Di Medan, Sumatera Utara misalnya Harga minyak nilam di Medan saat ini sudah cukup turun bila dibandingkan dengan harga sebelumnya. Jika sebelumnya berada di angka 650 ribu per kilo, justru menurun drastis ke angka 600 ribuan per kilo. Ini disebabkan karena permintaan pasar yang menurun. Namun, tingginya nilai jual minyak nilam di Medan, tak terlalu berpengaruh di kota – kota lainnya.

Di Makassar, salah satunya. Sebagai salah satu daerah penghasil nilam terbesar di Indonesia, harga minyak nilam di Makassar stabil di angka 535 ribuan. Ini membuktikan bahwa setiap daerah memiliki perbedaan harga.

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube