Kegagalan Berkomunikasi
Oleh: Amri Ikhsan*)
Akhir akhir ini, kita dihebohkan dengan adanya protes dan ketidaksetujuan terhadap pernyataan para tokoh atau pejabat yang terlontar ke publik. Ini mengindikasikan telah terjadi ‘kegagalan’ berkomunikasi, gagal membuat sebagian orang memahami pernyataan tersebut.
Kegagalan berkomunikasi bisa dianalisis berdasarkan kajian pragmatik, bagaimana menggunakan bahasa untuk komunikasi (Yule). Kegagalan berkomunikasi bisa dihubungkan dengan kegagalan pragmatik, kegagalan penutur membuat mitranya memahami maksud dari yang disampaikan. Kegagalan ini terindikasi dengan kesalahpahaman, protes, ketidaksetujuan, bantahan terhadap pernyataan tersebut.
Bahasa memang kebutuhan manusia. Berbahasa adalah aktivitas sosial. Manusia bebas menggunakan bahasa untuk menyampaikan ide, pendapat, gagasan, perasaan, dll. Tidak ada pihak yang bisa melarang. Berbicara menggunakan bahasa itu semudah membalikkan tangan.
Dalam konteks tertentu, pendapat, komentar, pernyataan yang sudah terlontarkan ke publik tidak bisa ditarik kembali, tidak bisa dihapus. Dizaman digital ini, pendapat dan pernyataan yang sudah terlontarkan menjadi koleksi publik yang bisa ditelusuri melalui jejak digital. Ada pihak yang menyatakan: ‘Jejak digital itu kejam’, karena bisa mengungkapkan kembali pernyataan yang pernah disampaikan sebelum yang bisa jadi kontradiktif dengan pernyataan sekarang.
Gagasan dan pernyataan dari pejabat dan masyarakat umum menunjukkan kognisi yang dimiliki seseorang. Tidak semua gagasan dan penyataan yang disampaikan dalam sebuah komunikasi bisa diterima dengan baik oleh publik. Kalau ada pihak yang protes, atau mempertanyakan isi dari pernyataan ini mengindikasikan bahwa komunikasinya itu tidak tuntas dan cenderung tergesa-gesa.
Ada motivasi untuk mendapatkan pujian membuat pejabat-pejabat lupa untuk menimbang secara seksama, apa pesan yang kira-kira ditanggapi publik dan bagaimana reaksi publik atas pesan yang disampaikan itu. Ketika pejabat publik mengatakan sesuatu, maka dia bukan hanya ingin menjelaskan tentang isu tertentu, melainkan pula ingin membentuk arah pandangan, arah dukungan, bahkan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan gagasan yang dia sampaikan. (Karim, Pikiran Rakyat).
Diyakini, komunikasi itu digunakan untuk menciptakan dan menjaga hubungan ‘baik’ dengan orang lain. Komunikasi dapat terjadi bila ada perrtukaran informasi diantara pihak dalam proses komunikasi. Di dalam berkomunikasi seorang penutur mengkomunikasikan informasi kepada petutur dengan tujuan agar petutur itu dapat memahami dan memaknai apa yang dikomunikasikannya.
Oleh karena itu, seorang penutur harus selalu berusaha menyakinkan agar pembicaraannya itu relevan dengan konteks, jelas, mudah dipahami, padat dan ringkas, serta terfokus pada persoalan. Antara penutur dan petutur harus menerapkan prinsip kerja sama.
Di dalam berkomunikasi, antara penutur dan petutur harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) tersebut agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. Secara lebih rinci, Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (maksim kualitas, kuantitas, hubungan dan cara).
Kalau masih ditemukan pihak pihak tertentu yang masih mempertanyakan substansi dari sebuah pernyataan seseorang, ada 4 (empat) kemungkinan kenapa hal itu bisa terjadi: pertama, si pembicara cenderung memberi informasi melebihi apa yang seharusnya disampaikan. Dia tidak memberikan jumlah informasi yang tepat, tidak seinformatif yang diinginkan. Supaya tidak menjadi polemik, katakan saja secukupnya. Jangan lebih dan jangan kurang. Ini implementasi dari maksim kuantitas: a) berikan pernyataam seinformatif yang diperlukan dan b) informasi itu jangan melebihi yang diperlukan.
Kedua, si pembicara memberikan informasi yang tidak benar. Ini inti dari maksim kualitas: jangan memberi informasi yang diyakini salah. Jangan menyebarkan hoaks. Kalau kita ragu dengan kebenaran sebuah informasi, jangan dikatakan. Intinya: a) jangan mengatakan sesuatu yang diyakini tidak benar dan b) jangan mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
Ketiga, si pembicara mengatakan sesuatu yang tidak relevan dengan topik yang sedang dibicarakan, dia berbicara diluar konteks pembicaraan. Ini menurut Grice adalah penerapan maksim hubungan, “Usahakan pernyataan ada relevansinya”. Katakan sesuatu yang relevan, yang sedang dibicarakan, atau topik yang sedang dibahas, jangan dicampurkan dengan informasi lain. Fokus saja pada materi atau persoalan yang sedang dibicarakan.
Keempat, si pembicara menggunakan perkataan yang tidak dipahami. Ini berhubungan dengan cara mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, dan saran. Ini realisasi dari maksim cara: a) hindari pernyataan-pernyataan yang samar, b) hindari ketakasaan, c) sampaikan secara ringkas, dan d) berbicara dengan teratur.
Kesalahpahaman, gagal paham disebabkan sebagian besar bukan karena ketidakmampuan untuk mendengar, mengurai kalimat, atau memahami kata- kata yang mereka katakan, melainkan kita sering gagal memahami maksud dari pembicara (Thomas, 1983:91).
Pendengar gagal memahami apa yang dimaksud dengan yang dikatakan (what is meant by what is said). Ini bisa ditandai dengan ada pihak yang ‘tidak puas’ dengan pernyataan tersebut.
Penyebab kegagalan berkomunikasi bisa dilihat dari aspek pragmalinguistik dan aspek sosiopragmatik (Thomas, 1983). Kemampuan pragmalinguistik mencakup kemampuan penutur dan petutur untuk menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang terkait grammatika, pilihan kata atau ko-teks dari teks tersebut
Sedangkan sosiopragmatik berhubungan dengan kemampuan peserta komunikasi untuk memilih bentuk-bentuk bahasa berdasarkan pengetahuan sosial budaya yang terkait dengan hubungan antar peserta tutur yang mencakupi kuasa, jarak sosial, dan berat atau tidaknya isi pesan, serta kaidah-kaidah interaksional yang lazim. Kemampuan sosiopragmatik merupakan kemampuan dalam menimbang nimbang apakah yang dilontarkan ke publik bisa menyinggung, mengganggu kelompok tertentu yang menyebabkan pihak ini ‘kehilangan wajah’.
Oleh karena itu, komunikasi harus diniatkan untuk mewujudkan kesamaan dalam memahami pernyataan antara penutur dan petutur karena komunikasi akan berjalam lancar bila ada kesamaan makna mengenai topik yang dibicarakan. Seorang penutur harus dapat memilih dan menggunakan bahasa dengan tepat agar maksud sebuah tuturan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat.
Berbahasa memang mudah, tolong diingat jangan sampai penyataan kita menyinggung pihak pihak tertentu yang bisa mengganggu hubungan silaturahmi. Mari bijak dan santun dalam berbahasa.
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
