JAMBI – Peluit pertandingan belum berakhir, tapi mantan pemain sepakbola lokal tahun 80an, Alip Saputra buru-buru meninggalkan stadion. Raut wajahnya menyimpan kekecewaan besar. Ekspektasi Final Gubernur Cup pada Jumat (20/1) jauh melenceng.
Ditemui dinamikajambi.com sore itu, Alip tak bisa menyembunyikan luapan kekesalannya. Mental pemain yang buruk, membuatnya jengkel. Apalagi, insiden antar pemain yang membuat wasit harus menghentikan pertandingan.
“Minta ampun nian. Macam mano kito mau berkembang. Macam mano mau main diluar,” beber Alip yang menyayangkan 2 kali insiden keributan itu.
Warga Kasang ini mengaku mengikuti pertandingan Gubernur Cup 2017. Dari pantauannya, tidak ada permainan tim maupun pemain yang bagus di perhelatan ini. Namun begitu, Ia memuji penampilan Merangin FC.
“Saya menonton dari awal sampai final. Tidak ada pemain yang bagus. Hanya Merangin yang bagus. Bolehlah Merangin. Bagus permainan timnya. Sayang nomor 3,” kata Alip yang pernah bermain di Forkib.
Kata Alip, buruknya permainan yang tersaji di Gubernur Cup kali ini bisa jadi lantaran kualitas rumput stadion yang kurang memadai. Ia berharap, pemerintah segera merenovasi stadion langganan perhelatan sepakbola itu.
“Lapangan jelek. Lapangan ini saya sangat berharap sekali bisa lebih baik. Karena apa? Karena lapangan ini sangat menentukan. Termasuk, keberadaan penjaja makanan. Sangat menganggu di stadion,” bebernya
Disinggung dengan final Gubernur Cup, Alip menilai beberapa hal yang membuatnya kecewa. Alip meragukan sikap wasit. Dia bilang, hal ini diperburuk dengan wasit kedua dan hakim garis.
