Ghairu Ummah di Tahun Baru 1442 Hijriah

Ghairu Ummah (Ummat Terbaik) di Tahun Baru 1442 Hijriah

Oleh: Amri Ikhsan*)

Kita baru memasuki tahun baru 1442 HijriahJutaan kaum muslimin  menyambut tahun baru Islam dengan penuh harap, berharap tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnyaMomentum ini adalah kesempatan penting untuk membangun komunikasi antar umat, sehingga tercipta saling percaya, saling menghormati, saling membantu.

Kita mulai tahun baru hijriah dengan mempertebal akidah tauhid, yakni mengenal Tuhan. Sebab, tauhid merupakan pangkal dan akhir kehidupan yang harus dipegang teguh, juga kepasrahan dalam segala pengabdiannya, kemudian meningkatkan hubungan dengan Tuhan, manusia dan makhluk Tuhan yang lain dengan rajin beribadah, berbuat baik ditengah masyarakat dan lingkungannya.

Kita isi tahun baru hijriah dengan etos kerja yang tinggi. Sebuah keberhasilan didukung oleh cara kerja, kerja keras, cerdas, kerja ikhlas yang memiliki tiga ciri dasar: menjunjung mutu pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat (Muhaimin)

Etos kerja yaitu segenap motivasi dan kecerdasan yang tercermin dalam perilaku kerja yang positif,yang profesional, serta budi pekerti luhur di dalam setiap beban kerja yang diberikan (Oktaviani, 2011). Kita gunakan momen awal tahun baru mengelola kondisi hati dan jiwa untuk mengabdi, berkerja maksimal, optimal, komprehensif, professional, dan berintegritas. Sehingga hasil kerja bisa dipertanggung jawabkan dan bisa menyenangkan semua pihak.

Baca Juga : Diduga Kaya, Ternyata Hanya Gaya

Ditahun baru hijriah, kita mantapkan bahwa kita bekerja bukan karena atasan, bukan karena ketatnya aturan, bukan karena dipantau oleh pengawas. Bukan karena mau dipuji, bukan karena disorot kamera, bukan karena mau update status di medsos. Bukan karena mau kelihatan rajin versi finger print tapi kita bekerja karena pengabdian.

Karena ingin melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara.

Kita menyadari bahwa pekerjaan yang baik itu memang tidak mudah, diperlukan tekad untuk selalu meningkatkan etos kerjanya: bekerja dengan target yang masuk akal, berkolaborasi, berpikir kritis, tanggung jawab terhadap program, kreatif dan inovatif, konsisten dan konsekuen (taat azas dan satunya kata dengan perbuatan).

Disadari, hasil pekerjaan yang sempurna selalu berkenaan dengan unsur manusia. Keberhasilan itu sangat tergantung pada kemauan manusianya dilapangan bukan diatas kertas.

Aspek Etos Kerja

Menurut Sinamo (2005), ada beberapa aspek etos kerja yang layak diperhitungkan umat dalam setiap kehidupan dalam menjalani tahun baru ini:

Pertama, kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, itu adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

Kedua, kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.

Ketiga, kerja adalah panggilan. Kerja harus ditempatkan sebagai panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.

Keempat, kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita,semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ada. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.

Baca Juga : Malam Tahun Baru 2020, Rahima Berikan Tali Asih Kepada Pasien RSUD

Kelima, kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.

Keenam, kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.

Ketujuh, kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

Berikutnya, jangan lupa berbahasa santun selama tahun 1442 Hijriah. Berbahasa santun bukan berarti kita orang lemah, tidak berdaya, mudah terpengaruh, atau mudah diintervensi. Kesantunan adalah sebuah kekuatan untuk menunjukan keberanian jiwa. 

Santun

Dengan kesantunankawan dan lawan politik akan menjadi segan. Memang, budaya santun di Indonesia sekarang ini sedang ‘langka’ ditengah fenomena ‘merasa menang’ yang ‘menghalalkan’ segala cara untuk memperoleh kekuasaan. Ini sebenarnya ‘ujian’ bagi bangsa Indonesia.

Berbahasa santun adalah kebiasaan dan dimiliki oleh setiap manusia. Keinginan ini bukan hal yang susah tapi sangat sederhana: menjaga lisan dan tulisan agar tidak melontarkan bahasa yang tidak pantas, katakan dengan data, hormati lawan bicara, gunakan kata kata yang menyejukkan diri sendiri dan lawan bicara, dll.

Oleh karena itu, ditahun baru diharapkan kita mengutamakan berbahasa santun dalam menyampaikan pendapat maupun kritik apapun media yang digunakan. Kebebasan berekspresi, perbedaan pendapat dan menyampaikan kritik adalah hak asasi setiap orang yang dilindungi oleh konstitusi. 

Tapi, pelaksanaannya harus tetap mengedepankan nilai-nilai moral, etika dan kesantunan sehingga sebesar apapun perbedaan pendapat yang terjadi di ruang publik harus tetap menyejuk diri dan public secara umum.

Sepanjang tahun, ikhlas-lah. Ikhlas ialah kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin (Abu Hudzaifah Al Mar’asyi). Mewujudkan ikhlas bukan pekerjaan yang mudah.

Tidak sedikit yang beramal karena ingin disanjung, dipuji, ingin dikatakan sebagai orang yang paling sholeh.Ada lagi yang belajar karena ingin keliharan pintar, berilmu supaya dapat penghormatan.

Memang sulit mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggodadan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat buruk.

Selamat Tahun baru 1442 Hijriah, semoga kita menjadi ghairu Ummah (umat terbaik), aamiin!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube

You cannot copy content of this page