Dari Tradisi, Minyak Lala Dikemas Jadi Pencetak Rupiah

SUMBAWA BARAT – Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat di samping dikenal dengan Madu hutan dan destinasi pariwisata, juga kini dikenal memiliki banyak produk-produk lokal.

Salah satunya minyak goreng yang berbahan baku kelapa atau biasa disebut oleh masyarakat Sumbawa, Minyak Lala. Minyak ini lebih gurih dari minyak goreng biasa. Selain itu, juga bebas dari kolesterol.

Diproduksi oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB), Lembaga Pengembangan Ekonomi Masyarakat Dasan Anyarsaat (LPEM) yang berada di Desa Dasan Anyak, Kecamatan Jereweh, Minyak Lala tengah menggeliat.

Selain memang, di kabupaten berlambangkan lebah madu hutan itu terdapat banyak perkebunan kelapa yang dimiliki warganya, potensi ini tengah mendapat dukungan dari perusahaan setempat.

Melihat potensi ini, KUB LPEM tergugah untuk memproduksi minyak goreng yang bahan dasarnya baku dari kelapa yang biasa di buat menjadi santan makan dan menjadi minuman kelapa muda ini.

Tidak hanya menghasilkan minyak, kelompok ini juga memanfaatkan ampas dari produksi minyak lala menjadi sambal lala.

Hal itu diungkapkan Zuberdin, Ketua KUB LPEM Dasan Anyar saat diwawancarai reporter media ini di tempat produksi Minyak Lala Bariri, pada Sabtu (03/11). Zuberdin menuturkan, awal mula produksi minyak ini bersama kelompoknya. Namun produksi sempat vakum karena banyak kendala dan keterbatasan.

“Sebelumnya telah menjadi tradisi kami lakukan membuat minyak lala ini, namun karena keterbatasan pengetahuan dan permodalan kami tidak tau harus berbuat apa, sedangkan ada nilai bisnis dalam memproduksi minyak lala ini,” ungkapnya

Hingga akhirnya, potensi ini menggeliat lagi dan menemukan solusi berkat program paradigma baru dari PT. Amman Mineral Nusa Tenggara yang belum lama ini dicanangkan.

“Dan kami pun coba menawarkan program ini beberapa waktu yang lalu ke pihak Community Business Development (CBD) PT AMNT. Dan alhamdullillah program kami disetujui, dan berkat program ini kini kelompok kami mempunyai bisnis yang menjanjikan. Hingga kelompok ini bisa berjalan dan meringankan perekonomian warga sekitar,” paparnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, pihaknya akan berupaya mengembangkan semua potensi ekonomi dari kelapa. Mulai dari serabut dan batok kelapa hingga ampas dari minyak lala.

“Ampas minyak lala atau blondo ini kami buat menjadi sambal dengan racikan bumbu khas Sumbawa, selanjutnya kami membuat kemasan yang menarik, dan tetunya rasanya di jamin top markotop. Alhamdullillah minyak lala dan sambal lala ini cukup di kenal warga sekitar bahkan telah di perkenalkan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Semoga kedepannya kelompok ini terus exis dalam memproduksi dan bisa semakin dikenal dan diterima dimasarakat,” tuturnya.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Tim CBD PT AMNT yang dihubungi reporter media ini, berkomitmen akan terus membina kelompok yang dibinanya hingga menjadi sukses di bidangnya masing masing.

“Kami dari Tim Community Business Development (CBD) terus melakukan pembinaan kepada kelompok yang telah bergabung, begitu juga dengan kelompok minyak lala ini,” kata Ismol Bahar salah satu dari Comdev CBD.

Perusahaan akan terus memantau perkembangannya dari produksi hingga bahan bakunya, termasuk jangka panjangnya.

“Kami telah memikirkan bahan baku yang murni dari kelapa ini, semoga pemerintah setempat nantinya bisa di ajak bekerja sama untuk menanami kelapa untuk meremajakan kelapa-kelapa yang ada saat ini. Sebagian tidak lagi produktif,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ismol menuturkan, sudah puluhan KUB binaan perusahaan dari hasil program paradigma baru ini. Tidak sedikit juga KUB yang telah mengajukan dan dalam proses peninjauan yang sedang digarap tim.

“Yang intinya animo masyarakat akan program paradigma baru ini semakin menggeliat,” tutupnya (Aw/*)

You cannot copy content of this page