BERITA JAMBI – Dampak hari pertama pengetatan PPKM Level IV di Kota Jambi, tampak jalanan lengang. Tak terkecuali, Pasar Keluarga Simpang Kawat Jambi tampak sepi. Pedagang pun di buat menjerit.
Seperti yang di ungkapkan Lina, salah satu pedagang di Kota Jambi, saat di temui Dinamikajambi.com.
Baca juga : PPKM di Jambi Minim Edukasi dan Perlu Evaluasi, Begini Kritik PMKRI
Sebelumnya, Pengetatan dan pendekatan PPKM level 4 di kota Jambi, mulai di berlakukan pada hari Senin 23 Agustus 2021 kemarin.
Pemberlakuan pengetatan PPKM ini, membawa cerita tersendiri bagi masyarakat di kota Jambi.
Betapa tidak, selain usaha non-esensial di tutup sementara seperti toko baju, toko sepatu, toko meubel hingga tempat tongkrongan, kegiatan lalu lintas pun seakan di batasi. Apalagi, masyarakat yang hendak keluar daerah kota Jambi.
Tak ayal, melihat adanya penyekatan di beberapa titik ini, membuat masyarakat takut untuk keluar rumah. Di tambah lagi, tiap titik ada pemeriksaan surat vaksin dan antigen COVID-19.
Meskipun sektor esensial seperti toko sembako, lalu toko bangunan masih Pasar Tradisional Keluarga masih boleh buka. Akan tetapi, jika masyarakat tak berani untuk keluar rumah, sama saja tidak berfungsi.
Sebagaimana pantauan di lapangan, Senin (23/08/2021) tampak masih beroperasi. Namun, berbeda dari situasi sebelum pengetatan yang tergolong ramai, kini sepi nyaris tak di kunjungi pembeli. Mengapa demikian?
Lina, salah satu Pedagang mengatakan, hal ini dampak dari pengetatan PPKM di kota Jambi tersebut. Walaupun, pasar tradisional sendiri dapat beroperasi hingga pukul 17.00.
Namun, Ia melihat berkurangnya pengunjung di akibatkan ketakutan masyarakat, untuk keluar rumah.
“Yang jelas, kami saro. Memang ada aturan di perbolehkan ke pasar, tapi kan masyarakat tu takut untuk keluar. Sebabnya, penyekatan itu kan di cek surat vaksin,” ungkapnya.
Sepi, Bisa Main Bola
Ia juga melihat, sejak tadi pagi pasar mengalami penurunan pengunjung di atas 50%. Padahal, biasanya sekiranya pukul 2 siang, masih di kunjungi para pembeli. Sembari berguyon, sangking sepinya Ia mengatakan pasar bak lapangan bola kaki.
“Kalau kami pedagang, mungkin masih biso lah. Tapi, yang kasihan itu tukang dorong gerobak. Karena sepi ibarat kata, bisa main bola di pasar ini. Barang banyak, yang beli tidak ada,” tambahnya.
Lalu, untuk penurunan omzet. Pedagang yang telah belasan tahun, menggantungkan hidup di lapak dagangannya ini, mengalami penurunan omzet di atas 50%.
“Hari ini, modal satu juta lima ratus lah. Sampai jam 2 siang ini, baru 700 ribu penjualan. Terus, biasonyo cabe 10 kg sehari. Hari ini baru 1 kilo,” tambahnya.
Lihat juga video : Saling Lempar Gas Air Mata, Demo di Jambi Ricuh
Untuk itu, Ia berharap pada pemerintah untuk dapat meninjau langsung para pedagang di pasar. Meski di satu sisi Ia juga mendukung langkah pemerintah, dalam memutus mata rantai Covid-19.
“Ya, kami berharap pemerintah turun langsung lah, melihat masyarakat yang menjerit saat ini.” tutupnya. (Tr01)
