MUARO JAMBI – Kondisi kesehatan yang menurun, membuat seniman Melayu di Jambi, Saidin (55) membutuhkan uluran tangan. Tak terkecuali Bupati Muaro Jambi, Hj. Masnah Busro yang mendatangi langsung Datuk Saidin, Jumat (21/06/2019) di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Maro Sebo.
Yang bikin haru, ketika pejuang seni melayu itu memberikan hiburan dengan kemampuannya memainkan alunan biola untuk satu satunya bupati perempuan pertama di Jambi ini. Datuk yang tengah berjuang melawan tumor, tampak piawai.
“Meskipun saat ini kondisi beliau sedang sakit, namun semangatnya tetap luar biasa,” bilang Bupati.
Untuk diketahui, Datuk Saidin berjuang untuk merawat kesenian tradisi Melayu. Seperti kakek dan ayahnya, Ia meneruskan seni yang harus dilakukan dengan ujian dan tantangan terlebih di jaman kini.
Dilansir Kompas.com, Saidin adalah generasi ketiga penerus teater komedi melayu Dul Muluk, kesenian Zikir Beredah, ataupun Lukah Gilo dari Desa Lubuk Raman.
Darah kesenian mengalir dari kakek dan ayahnya. Kakeknya adalah pelakon Dul Muluk, sementara ayahnya penabuh rebana siam dan gendang.
Sejak kecil Saidin tumbuh dengan kesenian khas Muaro Jambi itu. Ia mahir sebagai pelakon dalam teater Dul Muluk. Ia juga piawai sebagai pelakon Zikir Beredah dan Lukah Gilo. Zikir Beredah adalah semacam pertunjukan musik selawat yang melibatkan belasan penabuh rebana siam dan gong.
Seluruh kidungnya dikutip dari ayat-ayat Al Quran. Itu sebabnya Zikir Beredah dibawakan pada acara khusus seperti pernikahan dan syukuran menempati rumah baru. Masyarakat meyakini syair-syair dalam Zikir Beredah jika dinyanyikan dengan tepukan rebana nan lantang serta tabuhan gong yang membahana akan mampu mengusir roh-roh jahat.
Sebagai pelaku kesenian tradisi Muaro Jambi, Saidin sempat mencicipi masa-masa keemasan. Pada era 1980-an, ia tampil dari panggung ke panggung hampir setiap pekan di acara hajatan atau syukuran. Namun, memasuki era 1990-an, eksistensi kesenian tradisi itu mulai tergerus kehadiran aneka hiburan modern.
Saidin dan seniman lainnya baru menyadari ancaman besar itu pada tahun 2000. Ia dan kawan-kawannya pun berusaha membangkitkan kembali kesenian tradisi yang mulai redup itu.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah berusaha mengangkat potensi seni tradisi untuk mendorong pariwisata lokal. Dari situ, tawaran untuk pentas kembali datang.
Ujian Berat Kesehatan Pak Saidin
Pahatan biola melayu masih terbengkalai di atas lantai. Saidin (55) ingin menyelesaikan pesanan itu, namun tumor colli yang dideritanya kian merapuhkan otot dan persendian.
Sepekan lebih ia terbaring di dekat pesanan alat musik tradisional itu.
Di tengah semangatnya untuk terus merawat teater Dul Muluk, Zikir Beredah, dan Lukah Gilo, Saidin didera penyakit tumor colli yang tumbuh di lehernya. Tumor yang enam bulan lalu baru sebesar kelereng terus membesar hingga melebih ukuran bola tenis. Penyakit itu membuat tubuhnya kurus dan merapuhkan otot serta persendiannya. (Erw)
