BERITA JAMBI – Dari informasi yang di peroleh, Gubernur Jambi, Al Haris bersama Komisi V DPR RI, turun langsung tinjau kawasan Ujung Jabung, Jumat (19/11/2021). Anggota DPRD Provinsi Jambi, Evi Suherman beri masukan terkait pembangunan Ujung Jabung.
Sebagaimana di ketahui, kedatangan DPR RI Komisi V tersebut, guna meninjau langsung kawasan Ujung Jabung. Yang mana, Gubernur Jambi Al Haris, mulai gencar untuk melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut.
Baca juga : Pemerintah Bakal Terpkan PPKM Level 3 di Indonesia, Bagaimana Aturan Penerbangan?
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jambi, Evi Suherman menjelaskan, kawasan Ujung Jabung merupakan cikal bakal sentra bisnis internasional di Jambi. Di mana, samudra lepas tersebut merupakan akses jalur pelayaran internasional.
Namun, Ia memprediksi rencana kelanjutan pembangunan tersebut, akan memakan anggaran yang fantastis. Untuk itu, Evi beranggapan diperlukan sinergitas APBD dan APBN.
“Kita sangat mensupport, tentu Ujung Jabung ini akan menjadi ikon ekonomi internasional di Jambi. Begini, untuk pembangunannya mesti menggunakan APBN. Kalau APBD, sulit terwujud melihat kebutuhannya. Tetapi, jika APBD untuk dijadikan anggaran pendamping, saya rasa bisa,” ungkapnya, Jumat (19/11/2021).
Dimulai Dari Akses Jalan Darat
Lebih lanjut, mantan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Jambi ini menyarankan, dalam jangka pendek Pemprov dapat membenahi infrastruktur, menuju kawasan rencana pelabuhan tersebut.
“Kita akui, Ujung Jabung ini berat pembangunannya. Kenapa, akses jalur darat menuju kesana, melewati beberapa jembatan. Untuk itu, jangka pendeknya jalan kawasan Sabak, menuju ke samuderanya kita mantapkan. Memang, untuk saat ini sudah cukup baik,” tambahnya.
Sementara untuk jangka panjangnya, antara eksekutif dan legislatif dapat menggagas proses pengembangan. Bilangnya, jika sinergitas anggaran daerah dan pusat memadai, dapat di kembangkan menjadi primadona kawasan ekonomi baru.
“Jangka panjangnya, Pemda dan Legislatif mesti berfikir besar. Bagaimana nanti, menata ini dengan perencanaan awal. Kemudian, pengembangannya ditopang dengan adanya bandara,” bebernya.
Hemat Operasional Ekspor
Di samping itu, menurut kacamata pria kelahiran Sarolangun ini, jika kawasan Ujung Jabung dapat direalisasikan beberapa tahun ke depan akan membawa angin segar bagi kegiatan ekspor.
Betapa tidak, dengan postur perairan yang dalam secara otomatis kapal besar akan beroperasi. Ia membeberkan, selama ini komoditi ekspor Jambi tidak sepenuhnya melalui pelabuhan domestik.
Sementara, bilangnya, pembiayan distribusi ekspor dengan sistem ‘langsir’ tersebut, akan memakan biaya operasional yang tinggi.
“Pasti, karena kapal besar langsung ke laut lepas. Contohnya, batubara menggunakan kapal kapasitas 90 fit, itu langsung ke luar negeri. Kalau sekarang tidak, ditengah perairan barang itu dipindahkan ke kapal yang lebih besar lagi. Tentu, hal itu memakan biaya lebih.” tutupnya. (Tr01)
