VIRAL – Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati berkomitmen pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Bupati kesal warga ngeyel, akibatnya 5 orang karantina di rumah berhantu.
Langkah tegas dilakukan agar virus corona tak mewabah di Bumi Sukowati.
Dalam satu kesempatan kunjungan ke daerah, Yuni menerima laporan dari Camat Plupuh terkait adanya warga atau pemudik yang menjalani karantina mandiri. Namun di tengah jalan, pemudik tersebut mengingkari komitmen yang telah disepakati. Dua orang warga Kecamatan Plupuh diketahui keluar rumah untuk keperluan yang tidak penting.
Atas kejadian tersebut, Yuni dikabarkan meminta Camat agar menyiapkan rumah kosong untuk mengkarantina kedua warga. Bahkan, dia berseloroh, jika perlu rumah tersebut ada hantunya.
“Itu sebenarnya karena aku kesel dengan warga yang ngeyel. Kok jadi serius,” ujar Yuni melalui pesan WhatsApp dilansir Merdeka.com.
Yuni menyampaikan, dalam kesempatan kunjungan kerja, ia menanyakan kesiapan satgas kepada Ketua RT.
“Saya tanya bagaimana di sini, apakah sudah jalan satgasnya? Apakah ada kendala dengan pelaku perjalanan yang datang ke desa, mereka mau karantina mandiri atau tidak? Terus dijawab mau, tapi ada yang ngeyel, masih masa karantina terus keluar rumah beli rokok di pasar,” kata Yuni.
Atas jawaban tersebut, Yuni minta warga yang ngeyel diberikan teguran. Agar disampaikan juga bahwa pemudik tersebut sudah melanggar komitmen kesepakatan bersedia karantina mandiri. Untuk itu, Yuni minta agar karantina dimulai hari pertama lagi.
“Terus RT tanya kalau masih ngeyel ibu bagaimana? Aku jawab cari rumah kosong, masukkan ke sana, kunci dari luar. Rumah yang banyak hantunya, semua desa pasti punya,” selorohnya.
Warga pun mengaku siap atas permintaan bupati itu. Yuni juga meminta agar memberikan makan warga yang dikarantina itu, 3 kali sehari.
“Nah hari ini Desa Jabung lapor. Ada yang ngeyel 2 orang, dan dimasukkan rumah kosong. Saya jawab, ‘sip, pastikan rumah kosong yang ada hantunya,” pungkas Yuni.
Baca Juga : Diduga Kaya, Ternyata Hanya Gaya
Baca Juga : Warga Miskin di Jambi Akan Dapat Bantuan Rp. 600 Perbulan, Ini Syaratnya
Baca Juga : Lagi-Lagi Perampokan Terjadi di Sungai Penuh, Korban Ditinggal di Merangin
Yuni menambahkan, Pemkab Sragen memang tidak melarang pemudik yang akan pulang. Namun ia menegaskan jika pemudik tersebut harus menaati aturan dengan melakukan karantina mandiri.
Karantina di Rumah Berhantu
Sebelumnya ada dua warga dari Desa Jabung, Kecamatan Plupuh yang menjalani karantina di rumah angker tersebut. Kini, pemudik yang menjalani karantina di rumah angker itu bertambah tiga orang dari Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, Jawa Tengah.
Kepala Desa Sepat, Masaran, Sragen, Mulyono, saat dihubungi Solopos.com, Senin (20/4), menyampaikan ada tiga pemudik yang terpaksa dimasukkan ke rumah angker itu karena nekat keluar rumah saat menjalani karantina mandiri.
