JAMBI – Berdasarkan laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi, sudah sebanyak enam puluh kasus Demam Berdarah (DBD) yang terjadi di Jambi.
Hal ini disampaikan Eva Susanti, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Jambi, Jum’at (24/01/2020)
“Baru terlaporkan ada enam puluh kasus DBD yang masuk ke kita pada bulan ini,” kata Eva.
Dalam enam puluh kasus tersebut, di Kota Jambi paling banyak terdapat kasus DBD, kemudian disusul Batanghari.
“Dalam laporan yang masuk bulan Januari, laporan masih banyak yang belum masuk. Kota Jambi berjumlah 34 kasus, dan 1 orang meninggal.” Bebernya.
Baca juga : DBD Mulai Mengancam, Warga Sarolangun Hati-hati
Untuk itu, ia menyebut tahun ini kasus DBD di Jambi lebih tinggi, dibandingkan dengan awal tahun 2019 yang lalu.
Eva juga menambahkan, bahwa sebelumnya pihaknya melakukan Fogging sebagai solusi, untuk membasmi wabah DBD ini.
Pun demikian, ia menyampaikan bahwa pelaksanaan Fogging ternyata bukan solusi yang tepat. Karena setelah diteliti, Fogging lebih banyak efek negatifnya, terutama pada penggunaan infektisidanya.
“Kita sudah melakukan penelitian terkait infektisida malathion, itu ternyata sudah resistensi. Kita sudah menggantinya dengan infektisida yang lain, agar hasilnya lebih efektif.” Terangnya.
Oleh karena itu, dirinya menyarankan agar masyarakat melakukan pembersihan lingkungan, terutama 3M (menguras, Menutup, Memanfaatkan barang-barang bekas/red).
“Tempat-tempat air minum kita tutup, kemudian kalau ada jentik segera di buang.” Tambahnya.
Ia menghimbau agar masyarakat terus waspada di musim penghujan ini, dan lakukan kegiatan bersih-bersih yang lebih gencar, terutama untuk bisa menghilangkan tempat-tempat yang menjadi penampungan air.
“Biasanya dalam jangka enam hari nyamuk ini akan bertelur, menjadi jentik sehingga menjadi ribuan nyamuk dewasa.” Imbuhnya. (Paw)
Lihat Video : Klik Disini
