Kirim Surat Untuk Ibunya, Sarjana Teknik Ini Gantung Diri ?

SURABAYA – Warga di Jalan Rangkah Rejo gang III Surabaya heboh, Jumat pagi (25/1). Mereka kaget setelah mendapati adanya salah seorang warganya yang tewas gantung diri.

Belakangan diketahui jika warga tersebut adalah Hendra Winata, 37, yang tinggal di rumah deretan nomor 14.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diketahui tewas gantung diri sekitar pukul 09.30. Mayat sarjana teknik itu pertama kali ditemukan oleh bibi korban, Listiani,60, dan Ong Gita Atmaja, 38, saudara korban.

Saat itu, saksi yang tinggal di Tambak Adi 58 Surabaya ini hendak menjenguk korban yang tinggal sendirian.

“Saksi menjenguk korban atas permintaan ibu korban yang tinggal di Kalimantan. Sebab, dia khawatir tentang kondisi korban,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Tambaksari, Iptu Didik Ariawan.

Kekhawatiran ibu Hendra wajar. Sebab sebelumnya, Hendra menulis surat yang mengungkapkan tentang keinginannya untuk mengakhiri hidup.

Dalam surat itu, Hendra juga meminta izin kepada ibunya dan mengikhlaskan kepergiannya.

“Surat itu ditulis dan dikirimkan beberapa hari sebelum korban tewas gantung diri, tepatnya tanggal 22 Januari lalu,” terangnya.

Saat sang bibi mengunjungi korban, kondisi rumah dalam keadaan sepi dan terkunci. Beberapa kali bibi korban memanggil, tapi tak ada jawaban. Kemudian saksi memutuskan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan.

Saat pertama kali ditemukan, mayat korban sudah kaku dan membiru. Korban mengenakan kaos putih dan celana pendek. Lehernya terikat tali tampar yang diikaitkan ke pagar lantai dua rumah tersebut.

“Karena mengira masih bisa diselamatkan, bibi korban memotong tali yang melilit leher korban. Sehingga saat kami datang, posisi korban sudah diletakkan di sofa ruang tamu,” papar Didik.

Dari hasil pemeriksaan tim inafis Polrestabes Surabaya, korban yang juga rohaniawan ini dipastikan bunuh diri. Namun, penyebab pasti korban bunuh diri masih dalam penyelidikan polisi.

Meski demikian, dugaan awal korban mengakhiri hidupnya lantaran lama hidup membujang sendirian. “Korban sudah lama tinggal sendirian di rumah tersebut,” pungkas Didik.

Ketua RT setempat, Herman mengatakan, terakhir kali dia bertemu korban pada Kamis (24/1). Dia sempat bertegur sapa dengan korban, dan dibalas dengan senyum.

Menurutnya, kehidupan sosial korban cukup baik. “Saya tak menyangka (bunuh diri) karena selama ini tak ada tanda-tanda keanehan,” ungkapnya.

Sumber : Pojoksatu.id

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033