348 Desa dan 50 Kecamatan Rawan Banjir

JAMBI – Tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir, meningkatkan debit air. Tak ayal, meluapnya sungai yang mengakibatkan terjadinya banjir di pemukiman warga, terutama yang bertempat tinggal dibantaran sungai, ternyata telah menyebabkan kerugian mencapai Milyaran rupiah. Ratusan desa terancam banjir.

Hal ini diungkapkan oleh Arif Munandar,Kepala Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, saat dionfirmasi Senin (28/3) pagi.

Dikatakan Arif, meskipun data kerugian yang dihimpun pihaknya saat ini belum valid, lantaran masih menunggu laporan dari BPBD kabupaten/kota, Ia memperkirakan dari laporan yang telah diterima pihaknya berkisar puluhan Milyar. Kabupaten Merangin misalnya, akibat bencana banjir telah menyebabkan kerugian hingga Rp 98 Milyar. Angkat tersebut adalah angka kerugian terbesar tahun 2016 ini.

“Kalau data valid secara pasti saat ini belum ada, lantaran pihak kita masih menunggu laporan dari pihak BPBD kabupaten/kota yang terkena dampak banjir. Tetapi dari laporan yang sudah kita terima, seperti di Merangin, kerugiannya mencapai Rp 98 Milyar,” ungkap Arif.

Menyikapi kerugiannya, Arif bilang, pihaknya membutuhkan bantuan dari semua pihak, baik dari Pemerintah daerah, Provinsi maupun Pusat. Sementara disebutkannya bahwa di Provinsi Jambi saat ini terdapat sebanyak 348 desa dan 50 kecamatan yang wilayahnya sangat rawan terjadi bencana banjir.

“Untuk di Provinsi Jambi terdata sebanyak 348 dan 50 kecamatan yang rawan banjir, diantaranya ya, seperti di desa Batu kerbau Kabupaten Bungo, Desa Limun di Sarolangun dan Kabupaten Merangin yang terjadi di Tabir barat, Muara siau dan Pamenang. Banyak lagi daerah rawan lainnya,” bebernya.

“Bahkan ada di suatu wilayah, di satu lokasi dalam setahun itu terjadi banjir 3 sampai 4 kali,” sambungnya.

Terakhirnya, Arif menghimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat menghindari untuk melakukan pembangunan rumah di pinggiran sungai dan dataran rendah yang rawan banjir. Sebab tambahnya, pembangunan rumah zaman dahulu dan zaman sekarang sudah sangat jauh berbedanya.

“Tentu kita menghimbau jangan lagi membangun rumah dipinggiran sungai dan dataran rendah yang rawan banjir. Kalau dulu orang bangun rumah, jaraknya jauh dari sungai dan itu rumah panggung, kalau sekarang tentu harus berbeda, rumahnya modern. Sementara kita tidak tahu ada aktivitas apa dibantaran hulu sungai,” himbaunya singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page