JAMBI – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar 15 Februari, kemarin sentak menimbulkan pertanyaan besar. Pasalnya, 2 Petahana alias incumbent, sukses mempertahankan tampuk kekuasaan.
Pilkada serentak se-Indonesia yang dilakukan pekan lalu, cukup menjadi perbincangan publik. Setiap sudut mata menanyakan, kenapa bisa pasangan Petahana kali ini kembali memimpin untuk kali kedua periode?
Sekedar mengingatkan, perhelatan Pilkada sebelumnya kerap mengganjal petahana. Sebut saja pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Batanghari 2011 lalu dimana petahana Syahirsah tumbang saat mempertahankan kursi empukya.
Hal serupa terjadi kala Walikota Jambi, Bambang, Bupati Kerinci, Murasman, Bupati Merangin, Nalim pada 2013 lalu. Terakhir, nama Sudirman Zaini dan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus tumbang di Pilkada serentak 2015.
Jakfar Ahmad dari IDEA Institute menjawab sejumlah pertanyaan demi pertanyaan diatas. Jakfar mengatakan bahwa mereka yang ber-uanglah yang memimpin. Ia menilai, mereka yang memiliki relasi yang rela mendonorkan dananya lah yang akan menang.
“Dalam pilkada serentak kemarin saya tidak melihat fenomena apapun. Yang saya lihat mereka yang memiliki uang dan teman yang memberikan bantuan atau karena sebelumnya mereka adalah salah satu orang penting di daerahnya dan itulah yang memenangkan suara mereka.” kata jakfar saat dikonfirmasi dinamikajambi.com via telephone selularnya baru baru ini.
Dunia politik Jambi ini sesuatu yang sangat jarang sekali pasangan calon Petahana menang dalam dua periode, terlebih kali ini tidak tanggung tanggung dua Kabupaten sekaligus memenangkan Paslon Petahana yaitu Sarolangun dan Tebo.
Tidak jauh berbeda, Moch Faris Farisi dari mengatakan bahwa kinerja lima tahunlah yang memenangkan paslon Petahana. Walaupun perubahan tidak dirasa begitu nampak, namun efek kinerja lima tahun sangat mempengaruhi. Hal ini dikatakannya juga terjadi secara Nasional.
Sambung Dosen Fisipol UNJA ini, Pilkada Nasional tidak sama dengam Pilkada daerah. Silsilah keluarga dan kerabat serta kembali mereka yang memiliki uang sangat kuat mempengaruhi siapa yang akan menang dalam mengumpulkan suara pemilih.
“Kalau saya melihat kemenangan Petahana itu karena hasil kerjanya selama lima tahun menjabat. Walaupun mungkin tidak kencang tetapi itu sangat mempengaruhi. Kemudian Pilkada nasional itu tidak sama ya dengan Pilkada di daerah, itu bisa di karenakan silsilah keluarga, calonnya anak siapa cucu siapa atau apalah. Kemudian kerabat atau memiliki teman yang berpengaruh di suatu wilayah. Nah itu juga sangat berpengaruh, ditambah lagi mereka memiliki uang baik pribadi ataupun kawan yang memiliki loyalitas tinggi.” pungkasnya. (ben)
