Pembengkakan di Kepala Juli, Warga Tabir Ini Butuh Uluran Tangan

MERANGIN – Orang tua mana yang tidak sedih saat anaknya jatuh sakit. Terlebih penyakit yang dialaminya tergolong langka seperti yang dialami Juli (21) warga RT 08 kelurahan Kampung Baruh, kecamatan Tabir.

Bertahun-tahun Juli harus menahan sakit di kepala bagian belakang karena pembekakan yang diduga tumor ganas.

Kini anak paling bungsu Jamilah (63) tersebut harus terbujur diatas tempat baringnya menahan sakit. Sesekali terlihat Juli mondar mandir diatas rumahnya, terkadang juga terlihat Juli memegang kepala bagian belakang.

Saat awak media berkunjung untuk melihat keadaannya, Juli dan orang tuanya hanya bisa tersenyum tidak nampak diwajah mereka raut sedih, meski mereka hanya tinggal berdua dirumah panggung sepeninggalan Almarhum suami beberapa tahun silam.

Belum Tersentuh Pelayanan Kesehatan

Cerita Jamilah, anaknya tidak pernah diobati semenjak mengalami pembengkakan kepala bagian belakang. Jamilah hanya bisa pasrah karena tidak memiliki biaya. Jangankan untuk berobat, satu bulan terakhir mereka tidak memakan cabe.

“Dirumah ini kami tinggal berdua saja suami saya sudah meninggal. Kepala anak saya (Juli, red) sudah bertahun tahun membengkak, tapi 3 bulan terakhir ini semakin membesar, kepala yang bengkak itu sangat lembut seperti balon, coba saja dipegang,” ungkap Jamilah.

Ternyata benar, saat awak media memegang kepala bagian belakang Juli yang diduga mengidap tumor tumor ganas tersebut sangat lunak, persis seperti menekan balon.

“Saya hanya bisa pasrah, sebenarnya ingin sekali mengobati anak saya ini, tapi apa mau dikata. Jangankan untuk mengobatinya, sudah satu bulan ini  kami berdua tidak lagi makan cabe. Saya tidak punya apa-apa, harta saya cuma anak,” bilang Jamilah lagi.

Diusia yang sudah uzur, Jamilah terpaksa turun ke ladang guna mencukupi kebutuhan mereka. Ini dilakukan agar tidak membebani tetangga yang sering membantu kebutuhan sehari-hari.

“Kalau saya kesawah, Juli tinggal dirumah sendirian, sesekali saya balik kerumah untuk melihat keadaannya. Mata anak saya sudah rabun tidak bisa lagi menantang cahaya matahari, matanya itu rabun disebabkan pembekakan dikepala,” tutur Jamilah.

Saat ditanya apakah sudah ada bantuan Pemerintah Kecamatan kepada Juli, Jamilah menyebutkan selama ini mereka hanya menerima Beras Raskin (Raskin) itupun tidak setiap bulan.

“Bantuan yang saya terima itu cuma beras miskin, itu juga tidak rutin. Kalau bantuan kesehatan belum pernah kami terima. Saya juga tidak memberi tahu ke Kelurahan keadaan anak saya,” kata Jamilah.

Saat malam tiba Jamilah mulai khawatir sebab anaknya mengeluh sakit dikepalanya. Ditambah musim penghujan halaman rumahnya sering kebanjiran.

“Saya cuma takutnya malam, Juli ini sering mengaduh karena menahan rasa sakit dikepalanya. Kalau sakit dia hanya minum obat yang dibeli dari pasar (Apotik-red), kami memang tinggal di keramian Cuma kami dibatasi sungai tabir. Kalau berteriak minta tolong dari sini tidak terdengar,” kata Jamilah.

Awak media pun sempat menanyakan ke Juli, ia mengatakan rasa sakit dikepala jika malam sudah tiba seperti ditusuk jarum. Seringkali dirinya menangis untuk menahan penyakit yang ia derita selama beberapa tahun silam.

“Sakit di kapala sering malam bentuk ditusuk pakai jarum, untuk mengurang rasa sakit minum obat dari pasar, kadang kadang saya sering nangis karena tidak kuat untuk menahannya. Mau bagaiamana lagi sudah nasib saya, yang penting mak saya sehat beliau bisa merawat saya,” kata Juli.

“Kalau ada yang menawari berobat gratis saya sangat mau, kalau bayar kami tidak ada biaya, jangankan mau berobat makan kami seadanya, saya berdoa penyakit ini bisa diangkat oleh Allah. Ibu saya diberi kesehatan,” ucap Juli.

Orang tua Juli menunjukan bungkusan obat yang diminum anaknya untuk menahan rasa sakit. Awak media menanyakan kesalah satu apotik di kecamatan Tabir, apa kegunaan dan berapa biaya jika obat tersebut jika dibeli, karyawan apotik menyebutkan obat tersebut kegunaan untuk menahan rasa sakit dan nyeri, sedangkan harganya satu paket Rp 15 Ribu.(Cra)