Meski Tak Seheboh Dulu, Pengrajin Batu Akik Ternyata Masih Eksis di Jambi

BERITA JAMBI – Beberapa waktu lalu, demam batu akik booming di seluruh pelosok negeri ini, termasuk Provinsi Jambi. Ternyata, hingga kini pengrajin Batu Akik tersebut, masih eksis di Jambi. Kok bisa?

Sebelumnya di ketahui, sekitar tahun 2015 lalu, bisnis batu akik yang beromzet jutaan rupiah per hari ini heboh di kalangan masyarakat di Indonesia. Mulai dari kalangan remaja, dewasa hingga orangtua. Bahkan, hampir setiap sudut membicarakan batu akik ini.

Baca juga : Heboh Perumahan Jalan Emas Persada, DLH Muaro Jambi Langsung Respon

Bukan cuma itu saja, masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas, tidak sedikit yang mengkoleksi batu akik tersebut. Tak ayal, hal ini menjadi peluang bisnis bagi para pengrajin Batu Akik di negeri ini, termasuk di Provinsi Jambi.

Untuk itu, hampir setiap hari tiap pengrajin batu akik ini ramai di padati pengunjung, hingga memperoleh omzet puluhan juta.

Namun, lama kelamaan demam batu akik ini pun nyaris tak terdengar lagi, hingga memasuki tahun 2020 kemarin.

Pun demikian, siapa sangka para pengrajin Batu Akik ini ternyata masih eksis di Kota Jambi. Padahal, sudah tak booming lagi. Penasaran, ini alasannya.

Pengrajin di Kawasan Pattimura

Di lapangan, beberapa tidak ruas jalan di Kota Jambi, tampak masih ada pengrajin Batu Akik yang aktif berjualan. Salah satunya di kawasan Jl Pattimura Jambi, tepatnya di seputaran jalan depan Kuburan Cino.

Pantauan Dinamikajambi.com tampak belasan kendaraan roda dua dan empat terparkir di pinggir jalan.

Ternyata kendaraan ini adalah pengunjung, yang masih menggila terhadap batu cincin yang di olah oleh lara pengrajin tersebut. Padahal kan tidak booming lagi.

Seperti yang di sampaikan Ijal, salah satu pengrajin Batu Akik di kawasan Kuburan Cino itu, saat di temui Dinamikajambi.com, Kamis (18/02/2021) malam di lokasi.

Ia yang awalnya fokus memuluskan batu dagangannya, menyempatkan waktu untuk bincang-bincang dengan media ini.

Ijal mengaku, bahwa sudah 7 tahun ini Ia bergelut di dunia bisnis batu akik tersebut. Di mana, awalnya Pria paruh baya ini memulai usahanya, karena kagum dengan kemolekan batu yang ada di Provinsi Jambi.

“Mulai dari Raflesia, Pancawarna Klawing, Kecubung Intan Jambi, Teratai, Limau Manis. Selain itu Fosil Sungkai, Baturaja, Biru langit Baturaja dan Lavender. Semuanya saya senang liatnya,” tuturnya, sembari menyinari batu dengan senternya.

Seolah memiliki makna, Ijal pun memajang batu akik hasil olahannya di atas kain merah.

Bilangnya, kisaran harga batu yang Ia jual juga bervariasi. Karena sesuai dengan jenis dan kualitas, dari batu tersebut.

Untuk harganya, Ijal menjual dengan kisaran harga Rp 30.000, hingga Jutaan Rupiah.

“Seratnyo sih, ado yang kapur ado jugo yang non serat. Yang di cari itu non serat bang,” katanya menggunakan bahasa daerah.

Alasan masih tetap eksis

Meski tak seheboh dan tak se viral waktu lima tahun lalu, Pengrajin batu akik masih tetap konsisten. Apa alasannya?

Bilangnya, memang saat ini tren batu akik sudah tidak lagi heboh dan banyak di minati ketika awal-awal dulu. Akan tetapi, bagi masyarakat yang Hobby dan paham, tentu akan terus mengoleksi barang unik tersebut.

“Kalo jaman dulu kan orang ikut-ikutan, kalo sekarang benar-benar orang yang Hobby,” terangnya.

Hal senada juga di sampaikan Jakfar, salah satu pengunjung yang berada di lokasi saat itu.

Jakfar yang memang sudah lama Hobby dan mengoleksi batu akik tersebut, mengaku tak pernah puas dalam berburu jenis batu tersebut pada pengrajin yang ada di Jambi ini.

Bahkan, Gerimis dan udara malam pun tak mengurungkan niatnya untuk berburu batu akik tersebut.

“Namonyo hobby batu, jam berapo bae datang. Tahan hujan-hujan pegi kesini. Iyo aku bae kehujanan dari rumah cuman mau nengok batu,” ungkapnya.

Luput Dari Perhatian Pemerintah

Terpisah, Iwan, pengrajin yang Tergabung dalam Komunitas Kuburan Cino Batu Akik dan Permata (KBC), meminta Pemerintah mensupport mereka.

Menurutnya, semenjak Pandemi Covid-19 ini, penghasilan pengrajin batu akik tersebut terus menurun. Apalagi, jika di bandingkan dengan waktu saat booming dulu, jauh sekali.

Di mana, saat lagi hebohnya dulu mereka beromzet sejati satu juta lebih. Namun sekarang jangan segitu, setengahnya pun sulit.

Oleh karena itu, Ia berharap pemerintah dapat lebih memerhatikan lagi para pengrajin tersebut. Karena batu asli Jambi ini tidak hanya bagus dan indah, akan tetapi juga bisa mengangkat perekonomian masyarakat Jambi.

Untuk itu, Iwan berharap pemerintah dan DPRD Provinsi Jambi untuk lebih  memperhatikan para pengrajin batu akik tersebut.

Lihat juga video : Bupati bilang sudah, BPBD Sebut Nunggak honor posko Covid-19 di Merangin

Paling tidak pintanya, pemerintah dan dewan dapat melakukan pemberdayaan bagi pengrajin batu akik ini. Baik itu berbentuk pelatihan, maupun solusi lainnya. Hal ini tak lain dan bukan, juga untuk mengangkat perekonomian masyarakat di Provinsi Jambi.

“Di bantu, di bina atau di adakan pelatihan. Batu ini bukan untuk cincin bae. Contohnya di Singkut, itu orang yang pesan batu dari luar, yang di jadikan meja dan lain-lainnya. Paling tidak pemerintah bisa memfasilitasi untuk pelatihan kek,” harapnya. (Tr01)

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033