JAMBI – Tak hanya multifungsi yang ditawarkan si Cairan ajaib Maxigrow untuk pertanian, peternakan dan perkebunan sekaligus, peningkatan hasil panen dan pemasaran produksi menjadi tambahan keuntungan yang didapatkan petani.
Terobosan teknologi pemupukan ini masih memberi keuntungan lagi bagi para petani untuk pemasaran yang dikemas dalam manajemen baru dan menguntungkan.
Kelompok tani di sejumlah desa dalam Kabupaten Muaro Jambi menjadi sasaran pengembangan produk yang dipasarkan lewat jaringan petani ini. Konsep marketing dilakukan untuk menguji langsung si cairan ajaib.
“Benar. Kita langsung memberikan 100 botol Maxigrow untuk digunakan para petani jagung, kates, cabai dan sawit. Dari sini, ternyata hasilnya mengejutkan petani. Kebun kates di Pematang Gajah dan Kumpeh menghasilkan buah segar seberat 8 kg. Jagung kita buat di Rengas Bandung. Karet di Sebapo dan Mestong tepatnya di Pal XIII,” terang Ibnu Hajar
Menariknya, uji coba dilakukan inovasi pertanian Maxigrow ini juga dilakukan pada bekas lahan tambang dan tanah liat. Kandungan Mikroba Azospirillum Sp, Azotobacter Sp, Mikroba pelarut P, Lactobacillus Sp, dan Mikroba pendegradasi selulosa yang menghasilkan jenis-jenis mikroorganisme yang akan bekerja secara unik dan slow release. Pola itu akan sampai 50% menjamin ketersediaan unsur hara tanah bersifat makro dan mikro yang dibutuhkan bagi tanaman. Mengunakan tekhnologi ini dapat menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% sehingga dapat mengurangi biaya pembelian pupuk.
“Hasilnya, sawit dan cabe di tanah liat pal XIII, Mestong berbuah segar dan subur. Bekas lahan tambang sudah dipraktekkan di jawa. Sedangkan perikanan, kita aplikasikan di untuk kolam lele di Kasang Pudak, Kumpeh dan Mestong. Peternakan kambing, kita sudah berikan di Beliung patah, Bagan pete. Kambing pak Rahmat,” jelas Ibnu.
Dalam waktu dekat, pemasaran Maxigrow bakal dibuka luas untuk para petani maupun mereka yang ingin membuka lahan pekarangannya. Untuk bergabung dengan Maxigrow, anggota baru dibekali 5 bibit tanaman holtikultura seperti cabai, pepaya dan lainnya senilai Rp 500 ribu.

“Untuk tahap awal, kita berikan bibit senilai Rp 500 ribu. Tahap berikutnya, kita berikan bibit 5-10 jenis bibit dengan biaya Rp 100 ribu untuk pendaftaran,” katanya.
Akhir pekan ini, inovasi yang dipersiapkan dari 2001 itu bakal melaunching produk sekaligus seminar peluang usaha di bidang Agro, Perikanan dan Peternakan serta Urban Farming bersama Maksiplus Indonesia di Grand Hotel pada Sabtu (23/8) pukul 13.30 Wib. Acara ini bakal dihadir founder Maksiplus Indonesia.
