BERITA BISNIS – Siapa yang tak kenal jajanan Kue Putu Bambu, makanan yang di nanti-nanti generasi kelahiran 90-an. Kue berbahan dasar tepung beras, di kukus menggunakan uap didihan air.
Konon, yang menjadi pengingat di generasi 90an adalah bunyi khas seperti siulan. Meski di zaman milenial sekarang, jajanan kuliner Kue Putu Bambu satu ini masih tetap eksis.
Saat dalam perjalanan awak media DinamikaJambi.com, tak sengaja menarik pandangan mata di persimpangan. Tepatnya di kawasan perumahan Aurduri 1, Kecamatan Telanai Pura, Jambi. Terlihat gerobak yang di pasangkan dengan sepeda motor usang, mengeluarkan bunyi siulan.
Baca Juga : Takut Anak Tenggelam Jadilah Saung Haji Robert, Begini Kisah Inspirasi Pengusaha Mestong
Sontak mengingatkan memori jajanan ala bocah 15 tahun silam. Bunyi siulan itu ternyata berasal dari Pedagang Kue Putu Bambu. Salah satunya Selamet Pria berusia paruh baya ini, sedang asyik membolak-balikkan bilah bambu berisi adonan kue putu.
“Jualan ini sejak tahun 2008 lah, yah cukup-cukup untuk anak istri. Tapi kalau mau kaya dari sini payahlah,” ungkapnya.
Keluh Selamet di masa Pendemi ini penghasilannya merosot, pasalnya mahasiswa tidak melakukan aktivitas kampus oleh Pendemi Covid-19.
“Sebelum corona, adonan 4 kilo habislah dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Kalo sekarang berat,” keluhnya.
Sementara itu, pelanggannya di dominasi oleh Pelajar SMA dan Mahasiswa. Selamet menjajakan kuliner klasik ini, dari pukul 4 Sore hingga pukul 10 malam di berbagai titik di Kota Jambi.
“Dari sore disini, agak malam menjelang pulang nongkrong di Simpang Buluran dekat kampus Poltekes,” katanya.
Kerinduan Generasi 90’s
Pergeseran zaman sangat pesat, tentunya hal ini berpengaruh juga dengan kebiasaan ‘jajan’ anak-anak. Teknologi dan modernisasi bisa menjadi peluang, bisa juga menjadi bomerang. Namun di sisi lain masih ada warisan kebiasaan lama, salah satunya Kue Putu Bambu masih tetap eksis.
Lihat Juga : Drip Kawo, Kopi Khas Jambi Khusus Traveller Praktis Tinggal Seduh
“Kadang saya lihat pelanggan itu rindu dengan jajanan dulu. Saya ingat tahun 2000an yang beli itu kebanyakan anak-anak. Kalau sekarang orangtua anak-anak itu yang beli,” bilang Selamet.
Ia berpandangan jajanan kue putu bambu masih eksis karena kerinduan anak tahun 90an sampai tahun 2000an.
“Buktinya kami di Jambi (pedagang kue putu), kalo kumpul arisan itu masih ada sekitar 20 orang lah,” jelas Selamet.
Ia merasa heran, dengan kemajuan teknologi kini bisa merubah kebiasaan anak-anak. Seingatnya tempat nongkrong anak-anak itu di pos kamling, sembari bermain kelereng. Namun kini sebagian beralih ke tempat mewah, sebut saja Mall.
Meski begitu Selamet menyiratkan catatan kecil, bahwa teknologi sekarang yang di gunakan anak-anak (android) harus di kontrol oleh orangtua agar tidak bablas.
Lihat Juga Video : Sapuan Ansori, Mantan Tukang Semir, Duduk di DPRD Provinsi Jambi
“HP layar sentuh itu, harus di awasi oleh orangtua anak-anak. Itu ada tetangga saya udah besar bisa candu game online, ujung-ujungnya malas kerja. Cari duit susah loh,” tuturnya.
Dalam satu harinya, Selamet dapat menjual sekitar 100 buah kue putu. Per buahnya di hargai 1000 Rupiah, jajanan pinggir jalanan ini masih tetap di minati.(Tr01)
