Kisah Relawan Aksara di Jambi: Bekerja Tanpa Pamrih, Bertahan di Tengah Keterbatasan

BERITA JAMBI – Membawa misi mengembangkan minat dan budaya baca anak sejak usia dini, Taman Baca Impian menarik untuk diulas. Berikut kisah relawan aksara di Jambi, bekerja tanpa pamrih, bertahan di tengah keterbatasan.

Hingar bingar perkotaan hingga kemajuan teknologi era dewasa ini, ternyata masih ditemukan sekelompok orang yang peduli dengan budaya baca.

Hal ini tergambar di Taman Baca Impian, sebuah perpustakaan yang berdiri di RT 30 Perumahan Kotabaru Indah, Alam Barajo, Kota Jambi.

Bukan dikelola oleh sebuah NGO ataupun organisasi masyarakat sejenis, Taman Baca Impian merupakan aksi sosial dari warga setempat.

Layak diacungi jempol, pendirian dan operasional perpustakaan tersebut, sepenuhnya diperoleh dari swadaya masyarakat setempat.

Seperti dikatakan oleh Susriyenti, Ketua Taman Baca Impian menuturkan, sejarah berdirinya perpustakaan tersebut berangkat dari penerapan pembelajaran online, pada tahun 2020 lalu.

Baca Juga : Polisi Tangkap Begal Pembacokan di Gunung Putri

Kala itu, pihaknya memiliki kekhawatiran tersendiri, anak-anak berpotensi menjadi ketergantungan dengan gadget. Sehingga, pihaknya berinisiatif mendirikan taman baca tersebut.

“Justru itu kekhawatiran kita, anak-anak sekarang asyik dengan gadgetnya masing-masing. Kita takut terjadi lost learning, atau pembelajaran yang hilang. Maka, kita perlahan lestarikan kembali budaya baca, sebagaimana era gadget belum marak seperti dahulu,” ungkap Susriyenti, Selasa (05/06/2022).

Relawan Aksara di Jambi

Selain memiliki sisi positif sebagai sarana komunikasi dan informasi, gadget juga dinilai berpotensi merubah psikologis anak. Ia khawatir, oleh karena ketergantungan gadget, dapat mempengaruhi psikologis anak menjadi individualistik.

“Setidaknya anak-anak tau, oh masih ada tempat bermain dan belajar bersama,” timpalnya.

Menumpang di Rumah Kosong

Mendedikasikan diri sebagai relawan aksara, Taman Baca Impian memiliki kendala tersendiri. Seperti minimnya sarana dan prasarana, ketersediaan buku yang masih terbatas, hingga belum memiliki tempat yang permanen.

Bahkan, saat ini Taman Baca Impian masih menumpang di sebuah rumah kosong milik warga. Seperti pantauan dilapangan, rumah kosong tersebut disulap layaknya sebuah taman bermain. Lantas, bagaimana jika rumah warga tersebut akan dihuni oleh pemilikinya?

“Takutnya seleksi alam terjadi, punah dengan sendirinya. Sementara kalau swadaya, pasti terbatas,” ungkapnya.

Atas hal itu, Ibu Rumah Tangga ini meminta dukungan dari Pemerintah Kota maupun Provinsi Jambi. Tak mempersoalkan soal gaji ataupun insentif, pihaknya hanya menginginkan sebuah tempat permanen, berdiri di atas lahan fasilitas umum (fasum).

“Pak Walikota, mohon dukungannya. Kami berharap, ada sebuah pendopo atau bangunan permanen. Sehingga, kegiatan ini tak berakhir dengan sendirinya.” tutupnya.

Sekedar informasi, Taman Baca Impian saat ini rutin dikunjungi sekitar 20 anak per harinya. Buku-buku diperoleh dari warga dan menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah terdekat.

(Rpa)

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube