Kedudukan Pengusaha Dalam Pemilu 2024

PEMILIHAN umum dan pemilihan Kepala Daerah serentak di tahun 2024 sudah semakin dekat. Dimana yang kita ketahui pengusaha juga mematuhi konstitusi terhadap pelaksanaan pemelihan umum ata pemilu.

Menurut Haryadi Sukamdani Ketua Umum Pengusaha Indonesia (APINDO) tidak masalah jika pemilu digelar 2024. Tahun 1998 saja saat ada pergantian pemerintahan baik-baik saja. Ini dinamika yang biasa.

Gejolak bagi dunia usaha adalah hal yang biasa setiap kontestasi pemilihan umum berlangsung. Meski pengusaha sedang menghadapi masa pemulihan setelah pandemi Covid- 19, dampak pemilu yang digelar sesuai jadwal terhadap pertumbuhan ekonomi tak akan terlalu memberikan dampak besar.

Dimana yang kita ketahui itu pengusaha sudah cukup dewasa dalam berpolitik.
Ada dua nama yang kerap disebut untuk masuk ke dalam radar, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ternyata bagi pengusaha bukan soal figurnya saja.

Bahkan Anies ini saja sudah mendapat restu dari Partai Nasdem sebagai bakal calon pemilu 2024 yang akan datang. Kalangan pengusaha pun sudah memantau perkembangannya.

Harapan yakni lahirnya pemimpin yang mampu mengakomodasi dunia usaha. Siapapun presiden yang akan terpilih kelak maka bakal menghadapi sejumlah tantangan di depan mata.

Apalagi kondisi saat ini masih dipenuhi ketidakpastian.

“Kestabilan ekonomi menjadi syarat mutlak kestabilan Politik Demokrasi, daya beli masyarakat harus di jaga dengan berbagai bantuan sosial, sehingga putaran aktivitas ekonomi terjaga,” kata Benny.

Melihat pengalaman pemilu 2014 dan 2019, dunia usaha sempat terguncang akibat ketidakpastian adanya pemilu. Namun, itu menjadi momentum belajar bagi dunia usaha untuk bersiap-siap dalam mengantisipasinya.

Sementara itu, Anggota Kornite Insdustri Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Achmad Widjaja menyebut dunia usaha tidak terlalu memerdulikan sosok yang muncul. Ia lebih melihat pemimpin tersebut mampu memudahkan dunia usaha dalam bekerja.

Adapula menurut pengusaha muda itu, bahwa pemilih dari kalangan anak muda diprediksi bakal mendominasi pemilu 2024. Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut proporsi pemilih muda pada pemilu 2024 mendekati 60 persen atau sekitar 190 juta warga.

Adapun yang termasuk pemilih muda didefenisikan sebagai warga berusia 17-39 tahun. Merujuk dari data tersebut, yang dimaksud pemilih muda ialah generasi milenial dan Gen Z. Sementara itu, wirausahawan muda bernama Syahrul mengaku memandang pemilu 2024 sebagai ajang yang tidak menarik bagi anak muda. Dia menilai bakal ada banyak pemilih muda yang tidak memilih siapapun alias golput dalam pilpres, pileg, maupun pilkada.

Salah satu elemen penting dalam menjelaskan kekuatan-kekuatan politik di Indonesia tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan kelompok pengusaha. Kondisi ini tentu saja bisa dilihat dari rute keterlibatan pengusaha dalam perebutan jabatan politik Indonesia. Keterlibatan pengusaha saat ini sangat signifikan.

Ada empat tahapan yang bisa menjelaskan patahan-patahan sejarah partisipasi pengusaha dalam politik praktis.

Di fase pertama, yakni Era Orde Baru, pengusaha hanya menjadi penonton dan alat legitimasi penguasa pada saat itu.

Selanjutnya, di fase kedua yakni di Era Reformasi (1999-2004) keterlibatan pengusaha dalam politik praktis sudah mulai muncul sebagai partisipan meskipun masih terbatas dan masih menjadi pemilih.

Baru di fase ketiga di pemilu 2005-2014, kelompok pengusaha sudah semakin banyak menjadi partisipasi dalam berbagai momen pemilu yang ada.

Penulis :

NAFA PRATIWI PURBA
Mahasiswa Ilmu Politik UNJA

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube