JAKARTA – Kombinasi dari sentimen eksternal dan internal yang positif, terlihat telah berhasil membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak dengan gemilang. IHSG terpantau mampu membukukan lonjakan tajamnya di sesi perdagangan hari ini, Kamis (24/10/2019).
Pantauan juga menunjukkan, lonjakan IHSG yang tercatat sebagai yang tertajam di seluruh bursa saham Asia.
IHSG menutup sesi hari ini dengan melompat 1,3% untuk terhenti di posisi 6.339,65. Pelaku pasar di Jakarta terlihat masih larut dalam eforia sentimen internal dari pembentukan Kabinet Indonesia Maju yang baru dikukuhkan oleh Presiden Jokowi Rabu kemarin.
Meski hingga kini masih belum tersedia dengan jelas gebrakan yang akan diluncurkan Kabinet Jojowi Jilid II tersebut, investor terlihat masih antusias dengan terbentuknya kabinet tersebut.
Namun di tengah sambutan positif pelaku pasar di bursa saham Indonesia tersebut, laporan yang kurang bersahabat justru datang dari saham milik PT Mahaka Media Tbk.
Saham yang diperdagangkan dengan kode ABBA dan selama ini dikenal milik Erick Thohir (Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju) terlihat anjlok sangat tragis dan tak tertahankan di sesi hari ini. Saham ABBA akhirnya ditutup di Rp169 per lembar setelah rontok 5,05%.
Sementara pantauan pada saham-saham unggulan menunjukkan, kenaikan yang terjadi secara merata dan dalam rentang tajam serta konsisten di sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Laporan menyebutkan, seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan yang melompat tajam.
Diantaranya: BBRI, BBNI, BMRI, BBCA, TLKM, ASII, HMSP, JPFA, GGRM, INCO, BNLI, PGAS, BBTN, CPIN, serta ANTM.
Kinerja gemilang bursa saham Indonesia kali ini sesungguhnya masih relatif berseiring dengan bursa saham utama Asia.
Di tengah sentimen yang mulai menuju keraguan, seluruh indeks di bursa saham utama Asia mampu bertahan di zona hijau.
Laporan menyebutkan, sentimen dari prospek suram perlambatan ekonomi di sejumlah negara penting di kawasan Asia Pasifik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, Lembaga Dana Moneter Internasional, IMF yang sebelumnya telah merilis peringatan bagi sejumlah negara penting di Asia Pasifik untuk mengalami perlambatan yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya.
Laporan lebih rinci IMF menyebutkan, kinerja pertumbuhan ekonomi di Hong Kong dan Singapura yang akan mengalami pukulan paling telah dengan melambat lebih tajam dibanding proyeksi sebelumnya.
Dua negara pusat keuangan dunia tersebut diyakini hanya akan membukukan pertumbuhan masing-masing 0,3% dan 0,5% di tahun ini dan 1,5% dan 1,0% untuk tahun 2020.
Lebih jauh IMF menyebut, kinerja perlambatan lebih buruk yang juga akan dialami oleh sejumlah negara perekonomian penting di Asia, seperti Korea Selatan, Australia, serta Jepang.
IMF lebih jauh mendalihkan, serangkaian situasi terkini yang menjadikan sebab bagi kian suramnya prospek kinerja perekonomian di sejumlah negara penting di Asia tersebut.
Aksi protes pro demokrasi di Hong Kong yang berkepanjangan, serta sengketa yang kian tajam antara Korea Selatan dan Jepang dan masih ditambah lagi dengan pukulan dari perang dagang AS-China menjadi latar utama suramnya prospek di perekonomian Asia.
Sikap investor akhirnya mulai khawatir, namun masih belum sampai pada tahap melakukan tekanan jual. Gerak indeks akhirnya masih mampu bertahan di zona positif hingga sesi perdagangan ditutup.
Bursa saham Hong Kong terlihat membukukan lonjakan tajam dengan indeks Hang Seng melambung 0,87% untuk terhenti di 26.797,95. Sementara pada bursa saham Jepang, Indeks Nikkei menanjak 0,55% untuk terhenti di 22.750,6.
Pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI terlihat mampu beralih positif setelah sempat konsisten menapak pelemahan. Indeks KOSPI ditutup naik moderat 0,24% untuk singgah di 2.085,66.
Sedangkan pada bursa saham Australia, indeks ASX 200 terpantau mampu bertahan positif dengan naik 0,31% untuk menutup sesi di 6.693,6.
Beralih ke pasar valuta, gerak nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS terlihat kelelahan untuk menguat lebih lanjut. Rupiah dengan percaya diri sempat menjungkalkan Dolar AS di kisaran Rp13.980 pada sesi perdagangan pagi.
Namun setelah meninju titik terkuatnya tersebut, gerak Rupiah terlihat secara perlahan beralih menuju zona pelemahan. Tekanan jual yang mendera Rupiah terlihat seiring dengan kecenderungan yang melanda mata uang Asia.
Hingga sesi perdagangan sore ini berjalan, hampir seluruh mata uang Asia terpantau berada dalam cengkeraman zona merah. Mata uang Asia hanya menyisakan Dolar Hong Kong yang masih mencoba bertahan di zona penguatan tipis dan rentan untuk kembali ke zona pelemahan.
Terkini, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.050 per Dolar AS atau melemah 0,18%, dengan pelemahan tertajam mata uang Asia kali ini mendera Peso Filipina yang rontok 0,57% dan Rupee India yang anjlok 0,45%.
Sumber : katta.id
