BERITA VIRAL – Depresi diusir hingga di ejek oleh anak kandungnya yang merantau dan menikah di Bekasi, seorang ibu yang sudah rentan usia nekat akhiri hidupnya dengan loncat ke rel kereta api.
Tak ayal, hal ini buat geger setempat. Betapa tidak, sikap seorang anak yang mengusir dan menghina ibu kandungnya, di nilai begitu kejam.
Bahkan, akibat depresi diusir dan di ejek oleh anak kandungnya ini, seorang ibu yang sudah nenek-nenek ini pun mencoba akhiri hidupnya.
Baca juga : Hari Film Nasional, Ini Promo di Rental Home Theater Kinos Jambi
Sebelumnya di ketahui, Nenek Reni yang depresi diusir anak kandungnya, ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di Cilegon Banten.
Perempuan bernama lengkap I Ketut ini depresi, lantaran di usir anak kandung yang menikah di Cikarang, Bekasi Jawa Barat.
Setelah di usir dari rumah anak kandungnya di Cikarang, Reni ingin pergi ke Lampung tanpa tujuan.
Dalam perjalanan ke Lampung, nenek berusia 76 tahun ini di turunkan dari bus di Cilegon Banten.
Nenek asal Banjar Dinas Geluntung Kaja, Desa Geluntung, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan Bali tersebut, akhirnya melakukan percobaan bunuh diri.
Nenek Reni hendak loncak ke rel kereta api. Namun aksinya di cegah warga. Ia di tolong oleh Gusti Mustika.
Gusti Mustika merupakan warga asli Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.
Namun Gusti Mustika lahir dan besar di Sumatera, lantaran orang tuanya transmigrasi dan kini ia merantau ke Banten.
Tempat nenek Reni hendak loncat ke rel kereta api tidak jauh dari rumah Gusti Mustika.
“Pada Sabtu (13/3), nenek ini lewat di belakang rumah saya. Sekitar 5 meter ada gubuk kosong. Ada kereta lewat, si nenek mencoba meloncat ke kereta, mau lompat bunuh diri,” ucap Gusti Mustika, dilansir Bali Ekspres, Selasa (30/3).
Gusti Mustika menolong Reni. Ia prihatin melihat kondisi perempuan lanjut usia (lansia) itu.
“Saya awalnya tidak tahu latar belakangnya apa, agamanya apa. Ternyata tidak menyangka umat kita,” jelasnya.
Selanjutnya, Gusti Mustika mengajak nenek Reni ke rumahnya. Saat ditanya tidak nyambung.
“Saya tanya mau kemana dan dari mana, dia bilang Geluntung Kaja. Karena saya tidak tahu nama desa di Bali, ya saya tenangkan dulu. Kasi makan dan saya ajak di rumah sambil mencari jalan keluar,” sambungnya.
Besok paginya, nenek Reni ingat bawa KTP. Ia membawa tiga KTP, nama sama dan satu alamat yang berbeda, yaitu saat ia tinggal di Lampung.
Di sana, Gusti Mustika menemukan selembaran kertas. Dalam kertas itu tertulis alamat anaknya yang menikah di Cikarang lengkap dengan nomor telepon.
Hubungi Nomor Telepon
Gusti Mustika menghubungi nomor telepon di kertas itu. Namun, sang anak justru tak mengakui ibunya.
“Mengejutkan sekali. Saat saya hubungi tak menyangka dia tidak mengakui itu ibunya, lama dia ngomong,” ucapnya.
“Saya bilang ibunya ini saya temukan tergeletak di rel kereta api dan sekarang ada di rumah sakit, beritanya saya sengaja buat,” sambungnya.
Baca juga : Buah Sawitnya Di bilang Tak Bagus, Pria Ini Dorong Sartini ke Parit Hingga Meregang Nyawa
Mendengar hal itu, anak perempuan Reni tak bergeming. Ia tetap ngotot, tak mengakui Rani sebagai ibu kandungnya.
“Saya sudah yakin itu anaknya, namun dia tidak mengakui,” kata Gusti Mustika.
Setelah di hubungi berkali-kali, akhirnya perempuan itu mengakui ibunya. Namun dia justru menjelek-jelakan orang tuanya.
Nenek Reni sempat di bujuk untuk kembali ke rumah anaknya di Cikarang, tetapi menolak keras.
Reni juga menolak untuk kembali ke kampung halamannya di Marga, Tabanan karena menurutnya keluarga sudah tak mengakuinya.
“Saya tanya dan tawarkan di sini ada tempat di pura atau di tempat saya. Kalau di Banten organisasi umat Hindu solid sekali,” kata Gusti Mustika.
“Saya hubungi ketua banjar. Jika dititip di pura, pura bukan tempat panti, dan yang kasi makan siapa?,” sambungnya.
Akhirnya Gusti Mustika menampung nenek Reni di rumahnya hampir 4 minggu, sambil mencari solusi dan hasil musyawarah.
Gusti Mustika Antar Nenek Reni Pulang ke Bali
Atas upaya Gusti Mustika, beberapa bantuan pun datang. Dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banten.
Bantuan itu berupa makanan dan pakaian untuk nenek Reni.
Berita lain : Geger, Oknum Polwan Di grebek Suami Ngamar Dengan Polisi di Hotel
Setelah mendapat bantuan, Gusti Mustika akhirnya mengantar nenek Reni pulang ke Bali.
“Keberangkatan dari Banten ke Denpasar ini murni dibiayai dari dana punia dari umat Cilegon, Banten. Ada yang dana punia Rp 100 ribu, Rp 200 ribu, itu yang bisa sampai terkumpul sekian juta rupiah untuk biaya keberangkatan, termasuk rapid tes dan segala macam,” tandasnya.
Gusti Mustika pun rela menemani nenek Reni sampai di Bali. Hal itu tiada lain dari kepeduliannya sesama umat. Terlebih ia mengetahui dengan kondisi nenek Reni saat ini.
Tidak Mau Menerima
Sesampainya di Bali, keluarga Reni tidak mau menerima. Akhirnya nenek 76 tahun tersebut di titipkan di Rumah Singgah Lansia, Jalan Cok Agung Trensa, Renon Denpasar.
“Karena di Bali tidak mau terima beliau, tembuslah sampai di PHDI Bali. Hingga akhirnya tembus Dinas Sosial Provinsi Bali dan sampai di rumah singgah ini,” jelasnya.
Baca juga : PPP Jambi Usul Dukung Haris-Sani ke DPP, Ternyata Ini Alasannya
Reni akan tinggal di panti jompo di bawah naungan Dinas Sosial Provinsi Bali.
“Setelah emek (ibu) psikologisnya berangsur pulih, saya akan pamit pulang ke Banten. Semoga emek bahagia di sini dan terus sehat,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra menjelaskan sudah tugas pihaknya merawat orang tua yang telantar.
“Untuk nenek Reni sudah kewajiban kita itu merawatnya. Nanti kita akan tempatkan di panti untuk orang tua termlantar, dan sekarang masih di rumah singgah dua sampai tiga hari sampai keadaannya pulih,” tandasnya.
Sumber : pojoksatu.id
