JAMBI – Tak ada yang tau bagaimana nasib seseorang. Sosok kontroversi dan royal seperti Abdul Salam HD, anggota DPRD Provinsi Jambi misalnya. Siapa sangka, gaya hidup berkelas politisi Partai Hanura itu dulunya susah dan bahkan terbilang miskin. Dari pendidikan keras di Pondok Pesantren (Ponpes) Darusssalam, Lampung Selatan, Salam menjelma bak sosok bertangan dingin yang meraih banyak kesuksesan.
Tak hanya sukses sebagai politisi, Salam juga dikenal sebagai pengusaha besar. Dari perkebunan karet dan sawit, Salam masih memiliki kolam wisata buatan yang terus dibenahi. Ia juga mengembangkan bisnis lain dalam perusahaan PT Pamenang Jaya Pratama. Sementara dibidang pendidikan, Salam juga mengelola Ponpes Modren Assalam di Pamenang.
“Semua ini tak diraih dengan mudah. Banyak kenangan dalam membangun semua ini,” tutur Salam saat dibincangi dinamikajambi.com di salah satu tempat kuliner dalam Kota Jambi.
Ketua FPTI Provinsi Jambi ini kemudian sedikit berbagi kisah hidupnya pada media online ini. Di usia yang masih remaja, Salam muda harus berpisah dengan orang tuanya. Ia memilih menempuh pendidikan diluar kampungnya, Pamenang. Tak tanggung-tanggung, Salam memilih Lampung, ujung Sumatera sebagai tempatnya menempuh pendidikan.
“Disini, saya benar-benar mendapatkan pelajaran. Bisa dikatakan, pendidikan yang keras. Sehingga, kami (alumni,red) menjadi orang,” kata Salam yang kemudian diam dan seakan menerawang.
Tak berlebihan memang, Ponpes ini banyak menciptakan tokoh publik. Selain Salam yang mewakili rakyat dari Dapil Sarolangun – Merangin di DPRD Provinsi Jambi, ada nama Gusrizal (Golkar) dari Kerinci – Sungai Penuh dan M. Juber (Golkar) Tanjabtim – Tanjabbar. Selain itu, ada lagi nama dewan DPRD Kota Jambi seperti Aprizal (Golkar) dan Sulaiman Sawal (PKB). Selain politisi, masih ada sosok kritis sekaligus aktifis nyentrik, Tajri Dannur yang belakangan ini kembali menjadi perhatian publik usai aksi demo solonya berujung di laporan kepolisian.
Dulu, Salam melanjutkan, kehidupan sebagai santri diajarkan untuk hidup sederhana. Ia kemudian tampak mengurai senyum. Salam masih ingat bagaimana makan ala Ponpes.
“Kalau sekarang kita bisa pesan ayam goreng, rendang atau apa. Dulu, dapat ikan asin saja, kami sudah sangat-sangat bahagia. Luar biasa sekali. Kami kadang makan hanya ubi rebus,” katanya bercerita.
Ada lagi kisah kasur pinjaman. Lantaran tak memiliki kasur, ayah dari Mona Sari ini memanggil 2 santri dibawahnya. Salam yang menghabiskan 6 tahun di Ponpes ini lantas meminjam 2 sekaligus tempat tidur itu. Tak tanggung-tanggung, kasur pinjaman itu dipakai 1 tahun.

“Itupun lupa dikembalikan. Ustad lain yang mengembalikan kasur saya dan ustad Hamdi waktu itu,” kata Tajri Dannur, adik tingkat Ponpes Salam menambahkan.
Usai menyelesaikan pendidikan dari Ponpes Darussalam, Abdul Salam melanjutkan jenjang pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi di Jogja. Namun sayang, Salam tak bisa menyelesaikan pendidikan lantaran kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya.
“Saya sempat bertahan waktu itu dengan kerja sampingan di pasar dan terminal. Uang kostan sampai nunggak beberapa bulan. Pemilik kost waktu itu begitu mendukung saya untuk berjuang. Tapi sayang, saya tak mampu, dan harus pulang dengan kecewa,” kata Salam dengan rona wajah yang memerah.

Namun nasib berkata lain, Salam muda justru memiliki garis hidupan yang lebih baik setelahnya. Ia seakan menjelma jadi sosok bertangan dingin. Dengan kerja keras, baik usaha maupun kehidupannya terus meraih kesuksesan. Di dunia politik, Salam sukses membawa Hanura menjadi partai besar di Kabupaten Merangin. Lewat komandonya, Salam yang satu-satunya dari Hanura duduk di DPRD Kabupaten Merangin periode 2009-2014, mencetak 4 kursi baru periode 2014-2019.
