Berharap Pada “Kemauan” Guru

Oleh: Amri Ikhsan

Berharap Pada “Kemauan” Guru 

Hampir  semua orang, tidak akan menyangka bakal mengalami pandemi Covid-19. Dalam sekejap, Pandemi “mampu” mengubah kondisi pembelajaran, mengubah tradisi siswa dalam belajar dan guru dalam mengajar. Kegiatan pembelajaran yang biasanya di lakukan di sekolah, kini menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Atau siswa, mengikuti KBM secara daring.

Pandemi Covid-19 telah menciptakan kebiasaan baru bagi umat manusia, di dunia yang memaksa berbagai pihak untuk mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Banyak guru yang biasanya ‘malas’ belajar, kini ‘terpaksa’ dan mau tidak mau, harus belajar untuk bisa tetap produktif dalam menjalankan tugasnya.

Dampak Nyata Perubahan Pendidikan

Dampak yang paling nyata atas perubahan dunia pendidikan saat Pandemi adalah, keefektifan proses pembelajaran. Banyak pihak merasa PJJ belum menyentuh inti pembelajaran, karena memang tidak semua guru. Dan peserta didik mampu beradaptasi, dengan metode pendidikan yang baru ini.

Paling tidak, sebanyak 19,7 juta peserta didik SD, 8,2 juta peserta didik SMP, masing-masing 4,4 juta peserta didik SMA dan SMK. Serta 122 ribu peserta didik SLB (Kemendikbud, Dapodik 2020), yang semula belajar normal tatap  muka, di sekolah berubah dratis menjadi belajar di rumah. Atau melalui metode belajar dalam jaringan (daring).

Baca juga : Diduga Kaya, Ternyata Hanya Gaya

Sama halnya lebih dari 2,3 juta guru dan tenaga pendidik dari SD hingga SMK, termasuk guru SLB mau tidak mau merubah skenario pembelajaran dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ini belum termasuk guru di madrasah, dan di pondok pesantren.

Pembelajaran di masa Pandemi

Pembelajaran di masa pandemic baik PJJ maupun PTM, bukanlah pembelajaran biasa. PJJ dan PTM di lakukan dalam kondisi penuh tekanan, ketidaknyamanan, ketakutan. Memakai sesuatu yang tidak biasa (masker), melakukan sesuatu yang biasa tapi tidak boleh di lakukan (jabat tangan). Ini tidak hanya di rasakan oleh guru dan siswa, tapi juga orang tua, masyarakat dan pemerintah. Buktinya, banyak Pemda yang sudah merencanakan PTM, tapi di tunda sampai waktu yang belum di pastikan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Oleh karena itu, sekolah harus mau menyesuaikan kondisi ini dengan pembelajaran. Para guru harus mau sadar bahwa meng-copy-paste pelajaran tatap muka, yang biasa di lakukan guru dengan PJJ adalah sesuatu yang tidak bijak. Kedua, moda pembelajaran ini sangat jauh berbeda. Dan yang paling penting, mendisain pembelajaran yang bisa ‘membedakan’ kedua moda secara kasat mata sehingga siswa juga merasakan perbedaan ini. Sehingga siswa, tidak kelabakan dengan sistem baru ini.

Tidak ada pilihan lain, guru harus mau mengubah ‘mind set’  tentang pembelajaran, karena memang interaksinya berubah, bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik dengan orang tua. Di mana karena tanpa dukungan ini pembelajaran tidak akan berjalan maksimal, mengembangkan keterampilan berbasis teknologi. Hal ini karena memang di lakukan jarak jauh menggunakan platform tertentu, dan mampu menciptakan strategi pembelajaran yang bervariasi. Tentunya agar siswa betah belajar di rumah. Itu adalah kunci PJJ.

Dalam pembelajaran di masa pandemi, guru harus mau mendesain pembelajaran dengan menciptakan kenyamanan siswa dalam belajar. Minimal, selama pembelajaran, siswa untuk sementara bisa ‘melupakan’ hal hal yang menegangkan tentang Covid-19. Siswa akan merasa nyaman jika guru ‘berhasil’ menentukan materi, metode, media yang tepat.

Kalau tidak, pembelajaran akan terasa membosankan dan monoton. Bisa di pastikan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Sebab bisa jadi materi yang di sampaikan membingungkan siswa, membuat mereka malas belajar. Ini yang di khawatirkan pemerintah, learning loss.

Kondisi ini di perparah, bila guru hanya menggugurkan kewajiban mengajar, hanya kirim materi dan tugas kemudian siswa mengirimkan jawaban. Kegiatan ini terjadi setiap hari. Terkesan bahwa pembelajaran yang di lakukan, hanya memenuhi kebutuhan kurikulum. Apalagi tidak ada sentuhan akademik, dari pihak yang namanya stakeholder pendidikan dalam ‘membantu’ guru.

Guru Itu ‘Paling Pemalas’

Kalau boleh jujur, guru itu ‘paling pemalas’ menyiapkan media pembelajaran. Media itu sangat membantu siswa dalam PJJ. Bisa jadi media akan menambah semangat siswa untuk belajar. Memang media itu: (1) memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya nalar (3) menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara siswa dengan sumber belajar. Dan (4) memungkinkan siswa mandiri dengan bakat, dan kemampuan visual, auditori, dan kinestiknya (Nurgiyanto).

Banyak pihak yang mengira, tanpa persiapan memadai, pembelajaran akan ámburadul’. Kenyataannya, dalam segala keterbatasan, para guru mampu menjadi guru yang dengan semangatnya belajar mandiri untuk menguasai teknologi. Pandemi ini mendorong guru untuk mau tidak mau belajar menggunakan teknologi, sebagai sarana pendukung pembelajaran virtual. Ini terjadi karena guru ‘mau’. Akhirnya Berharap Pada “Kemauan” Guru.

Inovasi dan kreativitas tidak akan muncul, bila guru tidak ‘mau’. Kemauan adalah kunci masuk, untuk memulai sebuah inovasi atau kreativitas. Inovasi berarti mengintrodusir suatu gagasan, maupun teknologi baru. Inovasi dapat berupa  ide, proses dan produk dalam berbagai bidang (Aziz). Dalam KBBI (1997) Inovasi di artikan sebagai penemuan baru, yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah di kenal sebelumnya. Misalnya gagasan, metode atau alat.

Oleh karena itu, guru harus mau menemukan pendekatan, metode, strategi, teknik, taktik  pembelajaran baru yang berbeda dari sebelumnya dalam ruang kelas. Temuan baru itu di proses, di kenalkan dan di laksanakan secara sistematis, dengan maksud agar siswa tercerah dalam proses pembelajaran. Dan akhirnya siswa terpuaskan dengan pembelajaran guru.

Di samping guru berinovasi dan di perkaya dengan kreativitas, kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang tidak di buat oleh orang lain, sesuatu yang baru dan memiliki daya guna. Kreativitas adalah membuat sesuatu yang abstrak menjadi nyata, sesuatu yang potensial menjadi actual (Dacker, 1997).

Berharap Pada “Kemauan” Guru.

Bagi guru di fokuskan pada kreativitas akademik, produk, proses, atau orangnya, mampu menciptakan sesuatu yang belum diciptakan oleh orang lain (Torrance dan Goff, 1990). Kreativitas akademik ini memperkaya cara berpikir guru atau siswa, dalam belajar dan memproduksi, menerjemahkan dan memaknai sebuah informasi.

Pembelajaran selama pandemik di harapkan menerapkan keahlian belajar : bertanya, berdiskusi, mencari solusi, menyelidik, menerapkan, menguji coba, dll. Dan mengikis kebuntuan belajar: siswa tidak ‘nyambung’, tidak semangat, tidak percaya diri, lemah dalam membaca dan menulis, menghindari tugas sekolah. Serta tidak ada bantuan dari sekolah, berprasangka buruk terhadap sekolah. (Selznick)

Memang, mengajar online itu, guru membutuhkan ekstra energi menyiapkan materi, media, metode pembelajaran. Itulah yang membedakan pembelajaran di masa pandemi. Semoga guru di beri kekuatan, aamiin!

Penulis adalah Pendidik di Madrasah

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube