DI BALIK ribut-ribut soal perpanjangan jangka waktu tambang batu bara dan perebutan lahan antara swasta dengan pelat merah, sebenarnya cadangan emas hitam Indonesia ini justru dalam keadaan memprihatinkan.
Indonesia merupakan negara dengan produksi batu bara terbesar. Pada tahun ini saja, pemerintah Indonesia membidik target produksi batu bara mencapai 663 juta ton. Yang mana, sebanyak 497,2 juta tonnya dijual secara ekspor dan sisanya 165,7 juta ton untuk dalam negeri.
Kementerian ESDM mencatat cadangan batu bara Indonesia per 19 Januari 2022 sebanyak 31,7 miliar ton. Data tersebut dihimpun dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi. Cadangan batu bara Indonesia diperkirakan bisa habis sekitar 2040, terutama karena tidak ada eksplorasi baru.
Saat ini sumber daya batu bara berjumlah 113 miliar ton, dengan cadangan terbukti mencapai 31,7 miliar ton. Dengan kondisi eksploitasi dan produksi 500 juta ton per tahunnya maka penipisan cadangan pun semakin cepat.
Sekarang, Sejumlah perusahaan batu bara kini berbondong-bondong berekspansi ke bisnis pertambangan nikel hingga ekosistem kendaraan listrik, Menurut Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), ekspansi bisnis perusahaan batu bara ke pertambangan nikel, bahkan ekosistem kendaraan listrik ini karena dipicu oleh rencana bisnis jangka panjang perusahaan.
Bagi perusahaan batu bara, berkah dari harga komoditas akhir-akhir ini sebagian digunakan untuk investasi dan investasi ke ekosistem kendaraan listrik, termasuk ke nikel, tentu jadi salah satu yang menjanjikan. Dimana Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia, mengalahkan Filipina dan Rusia.
Pasokan Kelas 1 Indonesia
Melansir CNBC, pasokan nikel kelas 1 dari Indonesia pada tahun ini diperkirakan akan meningkat. Dengan demikian, ini juga bisa mampu meredam lonjakan harga akibat kekhawatiran terbatasnya pasokan nikel dunia sebagai imbas tersendatnya pasokan nikel dari Rusia.
Indonesia disebut memiliki cadangan logam nikel terbesar di dunia yakni sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.
Kementerian ESDM mencatat produksi olahan nikel Indonesia mencapai 2,47 juta ton pada 2021. Angka ini naik 2,17 persen dibanding 2020 yang sebesar 2,41 juta ton. Tren produksi olahan nikel di Indonesia mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
Awalnya produksi olahan nikel hanya sebesar 927.900 ton pada 2018. Angka ini terus naik, salah satunya ditopang oleh produksi feronikel.
Konsumsi bijih laterit tipe limonite kadar nikel rendah di Indonesia untuk pabrik HPAL yang memproduksi nikel kelas 1 masih relatif rendah. Jumlah cadangan bijih tipe saprolit dengan kandungan Ni lebih kecil dari 1,7 persen dan Ni lebih kecil dari 1,5 persen masing-masing sebesar 2,80 miliar ton dan 1,81 miliar ton biji basah.
Baca Juga : Punya Nilai Tinggi, Sekda Jambi Lepas Ekspor Pinang
Cadangan biji untuk kandungan Ni lebih rendah dari 1,5 persen masih dapat bertahan hingga 2025 jika semua pabrik HPAL yang direncanakan telah terbangun dan seluruhnya beroperasi dengan kapasitas produksi 58 juta ton biji basah per tahun.
Cadangan Nikel Nasional
Keadaan ini kembali terjadi seperti tahun 2000-an di mana pertumbuhan produksi batu bara pada saat itu hanya sekitar 67 juta ton dan terus bertumbuh setiap tahunnya hingga pada 2019 mencapai sekitar 616 juta ton.
Begitupun dengan nikel yang setiap tahunnya diprediksi akan terus terjadi pertumbuhan produksi seiring dengan makin meningkatnya produksi kendaraan listrik.
Dalam rangka menjaga ketahanan cadangan nikel nasional, semua berharap agar ada pengaturan sumber cadangan nikel kadar rendah yang sampai saat ini tidak diterima smelter lokal. Kemudian, mengenai pengaturan pasokan dan permintaan kebutuhan smelter atas bijih nikel berdasarkan total kebutuhan smelter dengan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya.
Penulis :
Dina Eka Safitri
Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Jambi
