JAKARTA – Pernyataan Kapolri Tito Karnavian, bahwa jenazah Covid-19 teori dibakar, bukan dikubur jadi pro dan kontra ditengah masyarakat.
Pada Rabu (22/7), Kapolri Tito Karavian mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dia mengatakan jenazah COVID-19, teori yang dibakar, bukan dikubur. Hal itu perlu dilakukan agar virus yang ada di jenazah, juga ikut mati.
Baca juga : Masa Pandemi Covid-19, Usaha UMKM di Kota Jambi Terpuruk, Tak Dapat Bantuan
Pernyataannya kemudian menjadi perbincangan di dunia maya. Pro dan kontra di tengah masyarakat, akhirnya terjadi.
Sementara itu, epidemolog UGM Bayu Satria Wiratama menyayangkan, pernyataan orang nomor satu di kepolisian Indonesia itu.
Menurutnya, menyetujui itu sangat kontroversial dengan upaya mendorong masyarakat, meminta perlindungan terhadap virus untuk mencegah virus penularan. Berikut selengkapnya.
Menurut Bayu, jenazah COVID-19 tidak perlu dibakar, perlu cukup dibungkus dengan baik sesuai protokol kesehatan. Hal itu sebenarnya sesuai dengan kesepakatan dari WHO.
Selain itu, dia menyayangkan keputusan itu keluar dari Tito, karena bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Saya rasa harus disetujui pejabat publik harus lebih berhati-hati, dalam mengeluarkan persetujuan. Karena sudah sering terjadi komunikasi yang buruk dari pemerintah, sehingga timbul keresahan, ”kata Bayu dikutip dari Ugm.ac.id pada Sabtu (25/7).
Menurut Bayu, jenazah yang meninggal karena COVID-19 cukup dikubur, dengan protokol kesehatan yang sudah dipraktikkan selama ini.
Dia mengatakan virus yang ada pada jenazah COVID-19, akan musnah dengan sendirinya yang dikuburnya jenazah itu.
“Virusnya akan mati jika lama tidak masuk ke inang yang baru,” ungkap Bayu.
Bayu mengatakan, pemerintah selaku harus mengeluarkan kebijakan yang ketat, dan tidak tebang pilih dalam pencegahan penularan virus Corona.
Hal ini dilakukan dengan persetujuan pada masing-masing daerah, dan persetujuan penanganan COVID-19, pada masing-masing daerah tersebut.
“Selama ini kita lemah pada surveilans mobilitasnya, jadi banyak yang berpindah tempat,” ujar Bayu dikutip dari ugm.ac.id.
Cara Menggunakan Masker yang Benar
Berdasarkan pengamatan Bayu, masih banyak orang yang salah dalam menggunakan topeng.
Pada saat makan, masker memang harus dilepas. Namun, itu juga berarti orang tidak boleh berbicara saat makan.
Baginya, bicara hanya boleh dilakukan dengan topeng. Selain itu, kesalahan penggunaan masker, juga terjadi saat foto bersama.
“Sudah tidak ada lagi ceritanya foto bareng tanpa topeng, dan hal itu sering dilanggar bahkan oleh pegawai kemenkes, Presiden, Menteri, semua orang sering lupa,” kata pakar epidemolog itu pada Sabtu (26/7).
Sumber : Merdeka.com
