Masa Pandemi Covid-19, Usaha UMKM di Kota Jambi Terpuruk, Tak Dapat Bantuan

Masa Pandemi Covid-19, Usaha UMKM di Kota Jambi Terpuruk, Tak Dapat Bantuan

Berita Bisnis Berita Daerah

JAMBI – Masa pandemi Covid-19 yang melanda Provinsi Jambi saat ini menyisakan banyak keluhan, kesedihan dan kepahitan segenap pengusaha kecil kelas UMKM di Kota Jambi.

Bagaimana tidak, di lapangan beberapa masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya, lewat usaha kecil UMKM terus terpuruk sejak masa Pandemi Covid-19 ini.

Baca juga : Ketua DPD I Golkar : CE-Ratu di Pilgub Harga Mati Bagi Kader

Hal ini dilihat dari pengakuan Ida, salah satu diantara pemilik pengusaha kecil UMKM Napoleon, yang beralamat di Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Paal Merah Kota Jambi, Minggu (26/07/2020).

Dirinya mengaku, bahwa usaha yang ia lakoni mengalami keterpurukan sejak Pandemi Covid-19 ini. Karena, selain sepi pembeli, modal yang dimiliki pun terkuras.

“Beberapa bulan tutup. Ketika buka, hingga saat ini pembeli pun sangat sepi. Sehingga usaha kami terancam bangkrut,” katanya.

Ida menambahkan, bukan hanya dirinya saja yang mengalami hal demikian. Akan tetapi banyak juga pengusaha UMKM lainnya, yang bernasib serupa.

“Ketika pandemi terjadi, kami sih sama sekali tidak pernah mendapatkan bantuan, maupun support dari pemerintah setempat. Kami disuruh tutup, tidak boleh buka usaha. Semuanya kami ta’ati, tapi akibatnya kami mengalami kesusahan,” rengeknya dengan raut wajah memelas.

“Ya, berapalah keuntungan kami yang memiliki usaha kecil-kecilan. Abang kan lihat, kami hanya menjual minuman es sachet, assesoris dan sedikit mainan anak-anak,” tambahnya dengan nada kesal.

Usaha UMKM Juga Daftar di Koperasi

Selanjutnya, bilang Ida usaha UMKM Napoleon bukan hanya usaha kecil-kecilan saja, namun juga mereka daftarkan ke Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Jakarta dengan nomor register 02238-1030-19.

Pun demikian, mirisnya lagi, modal usaha mereka yang kecil sama sekali tidak pernah dapatbantuan dari program pemerintah.

Tak ayal, keluhnya pun makin menjadi. Mengingat nasib mereka yang jadi taruhan, sejak pemerintahan meminta usahanya ditutup selama Covid-19.

“Ya, gimana ya. Tempat usaha kami sekaligus menjadi tempat tinggal. Ini statusnya kontrak. Suami kerja buruh harian lepas ,kadang hanya dapat 50 ribu atau 70 an ribu rupiah. Dan kadang pula pulang tidak membawa hasil,” ujarnya.

Lihat juga video : Klik Disini

Untuk itu, ia pun berharap nantinya ada uluran tangan pemerintah, seperti dana hibah atau program bantuan usaha kecil lainnya.

Dengan demikian, diharapkan usaha mereka saat meningkat, dan perekonomian pun menjadi kembali normal. (Very)