JAMBI – Harga Eceran Tertinggi (HET) gula pasir, di pasar beda dengan yang ditetapkan oleh pemerintah. Endingnya, harganya alami kenaikan.
Seperti yang disampaikan Amir Hasbi, selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, bahwa saat ini harga gula pasir tengah mengalami kenaikan.
Baca juga : Hingga 1 Juni, Pasar Murah Pemkab Tanjabbar Dibuka Hari Ini
Baca juga : Harga Sawit di Jambi Turun, Putri : Seperti Terjun Payung
Hal ini lantaran, harga HET yang ditetapkan pemerintah itu, tidak sesuai dengan yang berada di pasar.
“Jadi masyarakat yang produsen-produsen gula itu, gula tebu itu meminta agar harga HET yang ditetapkan melalui Kementerian Perdagangan, harus di naikkan. Namun itukan bukan wilayah kita, itu wilayah pusat,” kata Hasbi saat ditemui di gedung DPRD Provinsi Jambi, Jum’at (13/03/2020).
Pun demikian, bilang Hasbi dampaknya terhadap penyediaan stok gula, yang ada di Kabupaten/Kota saat ini jadi terganggu. Sehingga terjadi lonjakan harga.
“Sekarang juga kondisinya di bulog lagi kosong, dapat info kemarin itu bulog kosong gula. Sehingga akan mempengaruhi semua,” terangnya.
Ia menjelaskan, saat ini harga HET di pasar ada yang sudah mencapai Rp. 15.000, sementara harga HET yang ditetapkan pemerintah, sebesar Rp 12.500 rupiah.
“Di dinas kita sendiri tidak punya stok, yang punya stok ada di distributor-distributor,” tambahnya.
Lihat juga video : Kondisi pasar Angso Duo Baru Jambi carut marut
Oleh karena itu, guna mengatasi hal tersebut, pihaknya berupaya untuk berkoordinasi dengan pusat, agar dapat antisipasi kenaikan harga gula pasir di Jambi khususnya.
“Untuk sekarang kita belum dapat kesimpulan dari pusat. Mudah-mudahan kenaikan harga ini tidak bertahan lama,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini untuk Jambi belum begitu signifikan kenaikannya, harga HET nya masih 12.500, dan paling tinggi Rp. 13.000 hingga Rp. 14. 000.
“Nanti kita akan liat sejauh mana stok mereka (distributor), sehingga tidak mempengaruhi kenaikan harga gula.” Tuturnya. (Paw)
