JAKARTA– Sejumlah pelaku pasar, bahkan masyarakat awam kini sedang cemas memelototi pergerakan rupiah yang liar tak tentu arah.
Tentu tak ada yang berharap kondisi ekonomi kembali berada di titik nadir seperti ketika krisis keuangan 20 tahun silam. Tetapi tak sedikit pula yang penasaran ingin tahu bagaimana perbedaan kondisi ekonomi 2018 dan 1998 ketika krisis moneter terjadi.
Rupiah terus melesu hingga sempat ke level Rp14.935 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Selasa (4/9). Meski pada malam hari, Mata Uang Garuda kembali menguat ke level Rp14.915 per dolar AS.
Berdasarkan perhitungan sejak awal tahun ini, rupiah telah melemah lebih dari 10 persen hingga ke level Rp14.930 per dolar Amerika Serikat (AS). Level itu tercatat berada di posisi terlemah sejak tahun 1998, ketika badai krisis moneter menerpa ekonomi Indonesia.
Lihat juga: Beda Pelemahan Rupiah Kini dan Saat Krismon 1998
Bermula pada 1997, kondisi ekonomi Thailand melemah karena utang valas korporasi swasta membengkak seiring penguatan dolar AS. Tepat pada bulan Juli, Kurs Baht anjlok hingga 30 persen terhadap dolar AS. Arus modal asing pun berlarian, dolar AS semakin perkasa, dan melemahkan mata uang Asia lain.
Layaknya permainan Biliard, kekuatan Greenback memukul bola ekonomi Thailand, kemudian memantulkan potensi krisis ke sejumlah negara seperti Malaysia, dan Korea Selatan. Sayangnya, bola ekonomi Indonesia terkena pantulan paling keras hingga masuk ke lubang hitam krisis finansial terbesar kala itu.

Pertengahan 1997, penguatan dolar AS menyebabkan nilai tukar rupiah ikut bergejolak. Padahal data statistik menunjukkan nilai tukar rupiah stabil di level Rp1.901-Rp2.383 per dolar AS sejak tahun 1990-1996, atau hanya terdepresiasi rata-rata 3,8 persen per tahun.
Gejolak tak juga mereda, Rupiah terus merosot tajam dari rata-rata Rp2.450 per dolar AS pada Juni 1997 menjadi Rp13.513 akhir Januari 1998. Puncaknya, rupiah menyentuh level Rp16.650 per dolar AS pada Juni 1998, yakni ketika kondisi politik dan keamanan Indonesia kacau balau.
Kondisi krisis itu tak terlepas dari struktur yang cacat saat Rezim Orde Baru. Dalam laporan berjudul ‘Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF, dan Saran’ yang terbit 1999, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Lepi Tanadjaja Tarmidi menilai aturan perdagangan domestik saat itu sangat kaku dan berlarut-larut. Tak hanya itu, monopoli impor menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien.
Di saat bersamaan, pemerintah kurang transparan menyampaikan data ekonomi, sehingga timbul ketidakpastian transaksi dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistem perbankan yang lemah.
Senada, Ekonom Rizal Ramli menilai kondisi utang valuta asing (valas) korporasi swasta sangat besar tanpa diamankan melalui lindung nilai (hedging). Namun, otoritas tidak memiliki data utang swasta, sehingga abu-abu menentukan rambu bahaya.
Di sisi lain, neraca transaksi berjalan negatif, dan mata uang rupiah over value (lebih dari nilai kurs) 8 persen. Dua indikator itu memudahkan spekulator untuk menggempur rupiah.
Struktur fundamental yang ‘cacat’ pada pemerintahan Orde Baru 20 tahun silam dinilai sudah rampung dibenahi dan tak terjadi lagi saat ini.
Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan level rupiah saat ini memang hampir mendekati level saat krisis moneter 1998. Namun jika dilihat lebih jeli, persentase depresiasinya sangat jauh berbeda.
“Tingkat depresiasi 2018 ini hanya sekitar 9 persen, kalau 20 tahun lalu depresiasinya hampir 600 persen dalam setahun dari Rp2000 per dolar AS. Kondisinya beda,” katanya.
Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia saat ini sudah jauh lebih kuat. Misalnya, struktur utang swasta luar negeri lebih prudent menggunakan lindung nilai. Pertumbuhan utang luar negeri juga terkendali, dengan mayoritas penggunaan jangka panjang.
Tak hanya itu, ada pula penghentian sementara permohonan proyek infrastruktur dengan bahan impor yang tinggi, pelaksanaan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri di industri riil, dan menggencarkan sektor pariwisata demi menarik devisa.
Ke depan, BI diharapkan tetap berada di pasar untuk menahan depresiasi nilai tukar rupiah agar tak semakin liar.
“Kalau dilihat nilai riil efektif rupiah (riil effective exchange rate) masih undervalue, jadi sebenernya ini bukan mencerminkan fundamental Indonesia,” tegasnya.
Sumber : CNNIndonesia.com
