SAROLANGUN – Dalam upaya meningkatkan produktivitas karet, Kementrian Pertanian dan Perkebunan meluncurkan program jangka panjang berupa peremajaan atau replanting karet milik rakyat dengan target 50.000 hektar pertahun.
“Kita ada potensi replanting karet ini sekitar 700.000 hektar lahan, saat ini kemampuan APBN kita hanya 6.000 hektar pertahun, jadi mau sampai berapa tahun baru bisa selesai. Maka, kita kedepan mentargetkan replanting karet seluas 50.000 hektar pertahun,” kata Direktur Jendral Perkebunan, Kasdi Subagyono, belum lama ini.
Saat peremajaan, pihaknya akan mengarahkan agar para petani menanam 60 persen karet di dalam lahan satu hektar, sisanya kemudian boleh ditanami tanaman yang bisa menghasilkan jangka pendek, sehingga sebelum karet bisa dipanen, para petani dapat penghasilan.
“Saya sarankan tanam jagung, lainnya juga boleh seperti kopi, kacang tanah, cabe. Seperti di desa mekar sari, sarolangun saya lihat sudah luas biasa,” katanya.
Katanya, dalam upaya peremajaan tanaman karet ini, kementan telah meluncurkan program BUN 500 atau Benih Unggul 500 juta batang. Artinya Kementan akan menyiapkan 500 juta bibit berkualitas dalam lima tahun kedepan, itu berarti dalam satu tahun kementan akan menyiapkan 90 juta benih pertahun.
Dengan program ini, kementan berupaya membangun fasilitas pengembangan benih di sentra-sentra produksi, di tiap sentra produksi akan disiapkan pusat pengembangan benih sesuai komoditas yang di kembangkan di daerah tersebut.
“Kami akan bangun di lokasi pengembangan kawasan, kita bangun benihnya di sarolangun dan seterusnya supaya jaraknya dekat, kalau ngambil benihnya di jember sudah berapa biaya,” katanya.
Di Kabupaten Sarolangun, katanya tahun 2019 ini mendapatkan bantuan 350 hektar lahan replanting karet. Namun, pembenihan yang ada di penangkar benih di kecamatan singkut baru mampu senghasilkan 350 ribu batang pertahun.
“Untuk memperluas area dan replanting karet, selain jumlahnya kurang tapi kualitasnya masih kurang. 50 persen benih yang masih kurang bagus, dan penangkar bibit karet mereka (penangkar benih singkut) perlu kepastian, baru mampu 350 ribu pertahun,” katanya.
(Ajk)
