JAMBI – Menurunnya harga komoditi utama Provinsi Jambi, karet dan sawit, menjadi salah satu penyampaian Joko Widodo, Presiden Indonesia saat menjejakkan kaki di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah pekan lalu. Jokowi mengatakan, agar masyarakat tidak menggantungkan diri khususnya pada komoditi sawit yang melimpah.
Penyampaian ini, mendapatkan beragam reaksi. Pro dan kontra menyebar di media sosial. Salah satunya pada pengusaha muda Jambi, H Karyadi.
“Saya terus terang salut ketika pak Jokowi memberi solusi buat petani yang lagi bercocok tanam di hutan kawasan atau di hutan produksi dengan perhutanan sosial hutan kemasyarakatan dan sebagainya. Ini menurut saya cerdas, dan bagi bagi sertifikat itu juga bagus dan membantu, walaupun mekanisme bagi-baginya perlu disederhanakan saja,” paparnya.
Berita terkait : Ketergantungan Sawit Jokowi dan Masa Lalu Kelam Petani Karet Jambi
Namun statemen Presiden Jokowi tentang petani tidak menggantungkan diri terhadap sawit, menurut Karyadi selaku Ketua Perhimpunan Tani Rakyat Swadaya Provinsi Jambi bukanlah solusi.
“Bukan solusi bagi kami petani sawit. Karena mau di apakan petani sawit dan kebon sawit di jambi ini, yang menurut data kita hampir 60 – 70 persen perkebunan di jambi ini adalah perkebunan sawit. Dan dari luasan tersebut, 70 persennya adalah sawit rakyat swadaya, bukan kebun perusahaan atau plasma semua,” bebernya.
Sebelumnya, Jokowi mengatakan bahwa sawit di Indonesia begitu melimpah. Ada 13 juta hektar lahan dengan 40 juta ton produksi sawit. Untuk itu, Ia menyarankan masyarakat dan petani, untuk tidak menggantungkan diri pada sawit. Jokowi mendorong masyarakat untuk mengambil pasar Manggis, coklat, jengkol dan petai.
“Saya pikir pak presiden tidak mendapat info yang valid dari timnya di Jambi, karena sama sekali tidak memberi solusi cerdas kalau menggantikan kebon sawit dengan komoditas jengkol pete atau manggis. Karena komoditas ini berbuah tahunan, paling maksimal ya dua kali setahun la petani mau makan apa menjelang panen? Dan tau ngak, pasca panen jengkol dan manggis ini di Jambi tidak ada? Kalau secara besar mau di apakan kalau semua petani sawit ini tanam jengkol pete dan manggis,” bebernya.
Karyadi mengaku, sangat berharap dan menunggu pidato presiden kemarin memberi solusi bagi petani semisal akan di bangun terminal CPO di jambi atau membangun regulasi agar semua perusahaan sawit (PKS) di wajibkan membangun industri hilirisasi CPO.
“Jadi, kita tidak tergantung pada ekspor saja dan kita tidak impor minyak sayur. Dan masih banyak solusi lain apa lagi kita menyongsong era energi terbaharukan wacana bio diesel wajib menjadi prioritas utama. Jangan potensi alam yang begitu melimpah ini malah jadi masalah bagi negeri ini,” pungkasnya. (Win)
